AKTUALITA.CO.ID _ Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus) kembali merilis hasil survei terbaru yang menyatakan bahwa target partisipasi pemilih 85 persen dalam Pilkada Kabupaten Bogor yang dicanangkan oleh KPU setempat sulit untuk tercapai.
Menurut survei tersebut hanya 44,25 persen masyarakat yang mengetahui tanggal pelaksanaan Pilkada, sementara sisanya yaitu 55,75 persen belum mengetahui.
Founder LS Vinus Yusfitriadi menilai, angka tersebut menunjukkan rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat terkait Pilkada.
“Dari hasil survei kami, masih ada 44,25 persen masyarakat yang belum mengetahui akan adanya Pilkada. Ini sangat menggambarkan lemahnya sosialisasi yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Bogor,” kata Yusfitriadi Rabu (20/11/24).
Yusfitriadi menjelaskan, dengan waktu yang tersisa hanya enam hari menjelang pemungutan suara KPU seharusnya lebih giat melakukan sosialisasi.
“Apa yang bisa dilakukan KPU dalam waktu singkat ini?. Tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah ini semakin menegaskan kinerja KPU yang lemah dalam sosialisasi. Selain kurangnya informasi, rendahnya partisipasi pemilih juga dipengaruhi oleh ketidakpastian pilihan di kalangan masyarakat,” jelasnya.
“Banyak yang belum menentukan pilihannya. Ini jelas berpotensi mengurangi partisipasi. Bahkan, sekitar 2 persen pemilih Kabupaten Bogor menyatakan tidak akan datang ke TPS,” ungkapnya.
Ada beberapa faktor, kata yudfitriadi, yang berpotensi mengurangi tingkat partisipasi, seperti cuaca buruk dan perubahan jumlah TPS.
“Cuaca yang diprediksi BMKG akan hujan pada hari pemungutan suara dan pengurangan jumlah TPS bisa membuat masyarakat enggan datang ke TPS,” jelasnya.
“Jadi target partisipasi pemilih 85 persen yang ditetapkan oleh KPU Kabupaten Bogor tidak realistis. Berdasarkan tiga indikator ini, target 85 persen itu mengawang-awang dan tidak akan tercapai,” terangnya.
Sementara itu, Analis LS Vinus Rizki Riyanto menjelaskan lebih lanjut tentang hasil survei. Tingkat pengetahuan masyarakat tentang waktu pungut hitung Pilkada masih didominasi oleh mereka yang belum tahu, yakni 55,75 persen. Sementara yang sudah tahu hanya 44,25 persen.
Riski juga menyampaikan bahwa meskipun tingkat antusiasme masyarakat untuk datang ke TPS tercatat cukup tinggi, yaitu 98,97 persen, namun 1,03 persen atau ribuan pemilih menyatakan tidak akan hadir ke TPS pada 27 November mendatang.
“Ini merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena meskipun angka antusiasme tinggi, masih ada segmen masyarakat yang memilih untuk tidak berpartisipasi,” pungkasnya.
(rezza apit)









