AKTUALITA.CO.ID – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati saat bersilaturahmi pada perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Salah satu imbauan penting yang disampaikan adalah mengurangi kebiasaan menyentuh bayi dan balita guna mencegah penularan penyakit Campak yang sangat mudah menyebar.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI Andi Saguni mengatakan, tradisi menyentuh atau menggendong bayi saat berkumpul dengan keluarga sebaiknya mulai dibatasi, terutama pada momen Lebaran yang identik dengan pertemuan banyak orang.
“Kebiasaan asal menyentuh anak balita atau bayi, terutama saat Lebaran, sebaiknya memang dikurangi atau dihindari karena risiko penularannya cukup tinggi,” ujar Andi, Minggu (8/3/2026)
Menurutnya, kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan karena potensi penyebaran campak dapat meningkat ketika banyak orang berkumpul dalam satu waktu, seperti saat acara silaturahmi keluarga.
Ia juga mengingatkan orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala yang mengarah pada campak, seperti demam tinggi disertai ruam kemerahan pada kulit.
“Hindari berkumpul jika ada anggota keluarga yang sakit. Apalagi jika sudah muncul tanda-tanda suspek campak seperti ruam kemerahan, sebaiknya tidak ikut dalam kegiatan kumpul-kumpul,” jelasnya.
Selain itu, Kemenkes juga mengimbau masyarakat yang mengalami gejala campak untuk menunda aktivitas di luar rumah, termasuk berkunjung ke tempat wisata maupun lokasi yang ramai pengunjung.
“Pergi ke tempat wisata atau keramaian lainnya sebaiknya dihindari terlebih dahulu. Lebih baik beristirahat di rumah sampai benar-benar sembuh,” tegasnya.
Ia menegaskan, penderita campak sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah hingga dinyatakan pulih, agar tidak menularkan penyakit tersebut kepada anggota keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.
“Jika sedang sakit, sebaiknya menahan diri dan membatasi aktivitas hingga benar-benar sembuh agar tidak menularkan ke orang lain,” pungkasnya.
(Retza)









