AKTUALITA.CO.ID – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, H. Achmad Fathoni, mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mengikuti kebijakan Pemerintah Kota Bogor yang melarang angkutan kota (angkot) tua beroperasi.
Menurut Fathoni, hingga saat ini kebijakan serupa belum diterapkan di wilayah Kabupaten Bogor. Ia berharap ke depan ada tahapan kebijakan yang mengarah pada penataan dan peremajaan angkot secara menyeluruh.
“Kota sudah mulai pemeriksaan, angkot tua dilarang beroperasi. Kabupaten belum ada. Semoga nanti tahapannya ke arah sana,” ujarnya kepada Aktualita.co.id, Senin (23/3/2026).
Ia juga mendorong, adanya perubahan sistem pengelolaan angkot, dari yang berbasis setoran menjadi sistem penggajian seperti yang diterapkan di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta.
“Saya berpikir ke depan angkot tidak lagi menggunakan sistem setoran pribadi. Harapannya seperti di Jakarta, meskipun bekerja sama dengan swasta, pengelolaannya tetap bersama pemerintah daerah,” jelasnya.
Dengan sistem tersebut, lanjut Fathoni, para sopir angkot akan mendapatkan gaji tetap, sehingga tidak perlu lagi mengejar setoran harian. Hal ini dinilai dapat mengurangi praktik ngetem terlalu lama maupun aksi saling salip di jalan.
“Kalau sopir digaji, mau dapat penumpang atau tidak tetap menerima gaji. Jadi tidak ada lagi istilah ngetem lama atau saling sikut di jalan karena berebut penumpang,” tegasnya.
Selain itu, ia menilai peremajaan armada angkot menjadi hal yang mendesak. Angkot-angkot berusia tua diharapkan dapat diganti dengan kendaraan yang lebih layak dan aman melalui kerja sama antara Organisasi Angkutan Darat (Organda) dan pemerintah daerah.
“Peremajaan harus dilakukan. Nanti pengadaan bisa melalui Organda, sementara operasionalnya didukung regulasi dari pemerintah daerah dengan sistem gajian,” ungkapnya.
Fathoni menambahkan, jika sistem setoran tetap dipertahankan, maka berbagai persoalan klasik seperti kemacetan akibat ngetem dan persaingan tidak sehat antar sopir akan terus terjadi.
“Kalau dibiarkan seperti sekarang, problemnya akan terus sama, kejar setoran, ngetem, dan saling berebut penumpang. Maka harus ada perubahan sistem ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.
(Pandu)









