Aktualita.co.id – Menyusul aksi protes warga terkait dampak proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Cijurey, Pemerintah Kecamatan Jonggol menggelar pertemuan mediasi. Warga mengeluhkan kenyamanan yang terganggu serta kerusakan jalan akibat lalu lintas kendaraan proyek yang intensif.
Camat Jonggol Andri Rahman menyampaikan bahwa pertemuan ini mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam proyek dan terdampak, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, kontraktor, para kepala desa, pemerintah kecamatan Sukamakmur, serta anggota DPRD.
“Menanggapi aksi warga kemarin, hari ini kami mempertemukan seluruh pihak – dari BBWS Citarum, para kepala desa, warga, hingga DPRD. Alhamdulillah, permasalahan ini mulai menemukan titik terang. Pihak BBWS dan kontraktor sudah menyatakan siap bertanggung jawab,” ujar Andri kepada aktualita.co.id, Sabtu (12/07/25).
Pihak BBWS dan kontraktor menyatakan akan segera melakukan perbaikan sementara pada jalan-jalan yang rusak, sambil menunggu adanya nota kesepahaman (MoU) atau perjanjian kerja sama antara pemerintah desa, warga, dan BBWS serta Pemerintah Daerah dalam hal ini PUPR.
“Untuk tahap awal, jalan-jalan yang rusak akan segera ditambal atau perawatan dan dilakukan penyiraman untuk mengurangi debu. Setelah pekerjaan proyek selesai, akan ada peningkatan infrastruktur jalan. Tapi karena jalan itu milik kabupaten, pelaksanaannya harus dikoordinasikan dengan Dinas PUPR dan Bina Marga Kabupaten Bogor,” terangnya.
Andri menjelaskan bahwa pola ini telah diterapkan pada proyek Bendungan Cibeet, di mana sudah ada dokumen kerja sama resmi antara BBWS dan Pemerintah Kabupaten Bogor. Ia berharap pola yang sama segera diterapkan dalam proyek Cijurey, agar tanggung jawab dan kewenangan jelas.
Menurut Andri, usai pertemuan ini, pihak kontraktor akan langsung memulai perbaikan jalan yang rusak. Jalan yang sebelumnya ditutup sementara kini telah dibuka kembali untuk kelancaran distribusi material proyek. “Kendaraan besar akan diperbolehkan masuk hingga ke lokasi proyek, lalu material akan diturunkan dan didistribusikan menggunakan armada kecil demi keamanan dan kenyamanan warga,” ungkapnya.
“Sudah disepakati bahwa kendaraan proyek membawa material hanya beroperasi dari jam 5 sore sampai 5 pagi. Ini untuk meminimalisir gangguan aktivitas warga,” tegasnya.
Di wilayah Kecamatan Jonggol sendiri, tercatat tiga desa yang terdampak langsung oleh proyek bendungan ini, yakni Desa Sirnagalih, Desa Bendungan, dan Desa Balekambang.
Camat juga menyoroti kondisi kabel PLN yang menjuntai rendah sehingga ketika mobil besar lewat kabel terbawa dan putus. “Ini juga PLN untuk segera melakukan perbaikan kabel, dan daei pihak BBWas ketika mobil besar harua ada orang yang memantau dan melihat takut terjadi seperti kemarin putus kembali,” jelasnya.
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2 Proyek Bendungan Cijurey Willy Dwiraharjo menegaskan bahwa pihaknya bersama kontraktor akan melakukan perbaikan jalan yang sifatnya sementara, dan berkomitmen menjaga aspirasi masyarakat.
“Sebenarnya kami sudah melakukan beberapa perbaikan, meski masih bersifat sementara. Kami akan memprioritaskan titik-titik jalan yang mengalami kerusakan parah. Rencananya malam ini langsung dilakukan perbaikan,” ujarnya.
Willy juga menyebut adanya proses internal di BBWS karena perubahan struktur organisasi, namun pihaknya tetap akan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan demi kelancaran proyek dan keamanan warga.
“Kami tetap terbuka untuk koordinasi dan masukan dari masyarakat. Aspirasi warga jadi prioritas kami,” tegasnya.
“Untuk hasil dari rapat ini kita akan sampaikan nanti, dan akan di rapatkan kembali di internal,” tutupnya.









