AKTUALITACO.ID _ Di tengah upaya manusia untuk tumbuh, berkembang, dan membahagiakan orang-orang terdekat, tidak semua harapan mendapat ruang untuk bertunas. Dalam realitas negara berkembang dengan tabungan pensiun yang minim, biaya hidup yang terus meningkat, karier yang belum stabil, serta norma moral bahwa anak wajib menanggung orang tua. Generasi muda kerap terjepit di dua kutub tuntutan. Di sinilah retakan itu muncul: antara masa lalu yang belum tuntas dan masa depan yang belum siap menyambut. Fenomena ini tidak lagi sekadar persoalan domestik, tetapi potret masalah sosial yang meluas. Generasi sandwich ibarat sepotong daging di antara dua roti diperas dari dua arah, dipaksa kuat meski rapuh.
Kemunculan kondisi ini tidak datang begitu saja. Minimnya perlindungan sosial bagi lansia, naiknya biaya hidup, serta sistem pendidikan dan pekerjaan yang membuat kestabilan finansial baru diraih di usia akhir 20-an atau 30-an, menjadi rangkaian faktor yang saling bertaut. Ditambah tekanan ekonomi yang membayangi milenial dan Gen Z, seluruh beban akhirnya bertumpu pada pundak anak-anak muda yang harus menopang dua generasi sekaligus masa lalu yang meminta bakti, dan masa depan yang belum sempat dibangun.
Namun persoalan ini tidak melulu soal uang. Ada letih emosional yang jarang terdengar. Generasi sandwich kerap dihantui rasa bersalah, takut dianggap kurang berbakti pada orang tua, sekaligus khawatir mengecewakan keluarga inti. Mereka bekerja untuk hidup, tetapi hidup terkuras demi bekerja. Stigma “anak durhaka” menjadi bayang-bayang bagi mereka yang tak mampu membantu sepenuhnya, seakan tuntutan moral lebih penting daripada kesehatan jiwa. Lelah mental karena menjadi “jembatan dua generasi” dianggap biasa, padahal perlahan mengikis daya hidup.
Dampak sosialnya pun nyata namun jarang dibicarakan. Kualitas hidup generasi ini merosot meski tampak baik-baik saja dari luar. Produktivitas menurun, mimpi pribadi ditunda tanpa kepastian kapan dilanjutkan, rencana menikah atau membeli rumah menjadi cita-cita yang disimpan dalam laci. Ketimpangan antar-generasi kian lebar, dan beban ekonomi berpindah dari orang tua ke anak, lalu ke cucu, menciptakan lingkaran masalah yang terus berulang. Ironisnya, semua ini kerap dianggap normal, seolah generasi sandwich memang ditakdirkan menutup celah kebijakan yang rapuh.
Di balik istilah yang terdengar ringan, tersimpan luka senyap yang jarang betul-betul terucap. Ada anak yang setiap malam menghitung ulang penghasilan, berharap bisa memenuhi kebutuhan orang tua tanpa mengorbankan masa depan anaknya. Ada perintis karier yang hidup dalam mode bertahan, merawat dua rentang waktu sekaligus sementara dirinya sendiri hampir tak sempat dirawat. Mereka menahan lelah dan air mata karena dunia menuntut mereka selalu kuat, meski kekuatan itu disusun dari serpihan yang hampir patah.
Di titik inilah akar persoalan perlu disebut dengan jujur: negara tidak boleh terus menutup mata dan telinga terhadap jeritan yang tak terdengar ini. Indonesia membutuhkan jaminan pensiun yang layak, sistem perlindungan sosial yang benar-benar bekerja, serta ekosistem kerja yang lebih manusiawi. Generasi produktif tidak boleh terus menjadi perisai penutup kegagalan kebijakan publik. Fenomena generasi sandwich bukan tentang kurangnya bakti, melainkan tentang absennya negara dalam memenuhi tanggung jawabnya.
Akhirnya, generasi sandwich adalah gema dari bangsa yang sedang mencari bentuk penyembuhan. Retakan demi retakan mungkin membuat kita tersesat, tetapi dari retakan pula cahaya bisa masuk. Hanya saja, cahaya tak akan berarti apa pun jika tidak diikuti tindakan nyata. Kita membutuhkan solidaritas baru—kesadaran kolektif bahwa beban generasi ini bukan beban personal semata, melainkan tanda bahwa ada sistem yang harus diperbaiki. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan; mereka membutuhkan negara yang hadir. Luka sunyi generasi sandwich bukan untuk dikenang, tetapi untuk didengar, dipahami, dan disembuhkan bersama sebelum retakan kecil itu menjelma keruntuhan.
(Sheila Nurullita)









