AKTUALITA.CO.ID – Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk membangun identitas Kota Bogor sebagai City of Gastronomy.
Dedie Rachim mengatakan, Kota Bogor memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai kota gastronomi. Selain dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kuliner unggulan, Bogor juga didukung ekosistem yang lengkap, mulai dari pelaku usaha kuliner, ketersediaan rantai pasok bahan baku, hingga peran perguruan tinggi dalam pengembangan sektor tersebut.
“Kami ingin ke depan Kota Bogor dikenal sebagai City of Gastronomy. Potensinya sangat besar karena kuliner di Kota Bogor terus berkembang dan menjadi daya tarik masyarakat, bukan hanya dari Jabodetabek, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara,” ujar Dedie Rachim, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, penguatan identitas sebagai kota gastronomi tidak hanya bertujuan membangun citra Kota Bogor, tetapi juga menjadi strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor kuliner.
Ia menjelaskan, perkembangan industri kuliner di Kota Bogor terus menunjukkan tren positif. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya kafe, restoran, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kuliner.
“Seluruh aspek pendukungnya sudah ada, mulai dari pelaku usaha, distribusi bahan baku, hingga dukungan perguruan tinggi. Ini menjadi modal besar untuk membangun branding Kota Bogor sebagai kota gastronomi,” jelasnya.
“Kami berharap penguatan city branding ini dapat meningkatkan daya saing Kota Bogor sebagai destinasi wisata, sekaligus menarik lebih banyak investasi dan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal,” harapnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya menekankan pentingnya setiap daerah memiliki identitas yang kuat sebagai bagian dari strategi pembangunan dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Menurutnya, sejumlah kota di Indonesia telah berhasil membangun diferensiasi melalui city branding yang tepat sehingga mampu meningkatkan daya tarik daerah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Ada satu hal yang ingin saya titipkan di sini, karena ini menjadi langkah awal ketika sebuah kota ingin lebih dikenal dan meningkatkan PAD, yaitu identitas kota atau city branding,” kata Bima Arya.
Ia menegaskan bahwa city branding bukan sekadar upaya pencitraan, melainkan harus mencerminkan kondisi kota saat ini, sejarah yang dimiliki, serta visi pembangunan di masa depan.
“Branding bukan hanya pencitraan. Branding yang baik adalah citra hari ini, cerita masa lalu, dan cita-cita masa depan yang saling terhubung,” tutupnya.
(Retza)









