AKTUALITA.CO.ID – Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) terus menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Kota Bandung. Berlokasi di kawasan Gedung Merdeka, Bandung, museum ini tidak hanya menyimpan jejak penting lahirnya semangat solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika, tetapi juga menjadi pusat edukasi yang menarik minat pelajar, wisatawan domestik, hingga mancanegara.
Kepala Seksi Publikasi dan Nilai-nilai Konferensi Asia-Afrika Christoforus Katon menjelaskan bahwa Museum KAA berdiri atas gagasan Menteri Luar Negeri RI saat itu Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja.
“Gagasan pendirian museum muncul untuk mengabadikan sejarah serta semangat Konferensi Asia-Afrika. Usulan tersebut disampaikan pada peringatan 25 tahun KAA tahun 1980 dan mendapat dukungan Presiden Soeharto. Akhirnya Museum Konferensi Asia-Afrika diresmikan pada 24 April 1980, bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika,” ujar Christoforus dalam keterangan resminya. Rabu (8/7/2026)
Ia menjelaskan, Museum KAA menghadirkan berbagai koleksi bersejarah yang membawa pengunjung menelusuri perjalanan diplomasi dunia. Koleksi tersebut meliputi diorama Sidang Pembukaan Konferensi Asia-Afrika 1955, peralatan jurnalistik, arsip foto dan dokumen bersejarah, hingga film dokumenter yang menggambarkan jalannya konferensi serta pengaruhnya terhadap perkembangan politik dunia.
“Tak hanya mengulas sejarah Konferensi Asia-Afrika, museum ini juga mengajak pengunjung mengenal perjalanan panjang Gedung Merdeka sebagai saksi lahirnya semangat perdamaian, kerja sama, dan persaudaraan antarbangsa,” tuturnya.
Diketahui, Sepanjang Januari hingga Juni 2026, museum ini mencatat lebih dari 35.000 pengunjung, yang didominasi wisatawan domestik dan rombongan pelajar. Sementara itu, jumlah wisatawan mancanegara pada periode yang sama mencapai lebih dari 3.500 orang.
Untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam, Museum KAA menyediakan layanan edukator atau pemandu wisata bagi rombongan yang telah melakukan reservasi. Layanan tersebut tersedia dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin sehingga dapat melayani pengunjung dari berbagai negara.
Christoforus menambahkan, Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada 18–24 April 1955 di Gedung Merdeka dihadiri oleh 29 negara dari kawasan Asia dan Afrika. Konferensi tersebut menjadi tonggak penting lahirnya semangat kerja sama negara-negara berkembang dalam memperjuangkan kemerdekaan, persamaan derajat, serta perdamaian dunia.
Ia berharap nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika dapat terus diwariskan kepada generasi muda.
“Peristiwa Konferensi Asia-Afrika 1955 mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama antarindividu maupun antarbangsa dalam menjaga persatuan serta perdamaian dunia,” tuturnya.
“Sebagai salah satu ikon sejarah dunia yang berada di jantung Kota Bandung, Museum Konferensi Asia-Afrika tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan memori masa lalu. Lebih dari itu, museum ini menjadi ruang edukasi yang menginspirasi generasi masa kini untuk terus merawat semangat persaudaraan, diplomasi, dan perdamaian global,” pungkasnya. (Retza)









