Aktualita.co.id – Kasus kecurangan masuk perguruan tinggi melalui Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) 2023 ditemukan pada pelaksanaan UTBK di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Sumatera Utara.
““Tindak kecurangan pertama kali ditemukan oleh pengawas ruangan yang melihat tindak tanduk peserta yang mencurigakan,” kata Wakil Rektor I USU Dr Edy Ikhsan dikutip dari RMOL, Sabtu (13/5/2023).
Pimpinan USU pun melaporkan tujuh peserta UTBK tersebut kepada aparat kepolisian yang diduga merupakan bagian dari sindikat bimbingan belajar (bimbel).
Edy menjelaskani, dari tujuh orang yang diduga melakukan kecurangan pada hari ketiga pelaksanaan UTBK, Rabu (10/5), empat orang di antaranya merupakan peserta di Fakultas Kedokteran. Sisanya, masing-masing satu orang di Fakultas Keperawatan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakultas Psikologi.
Edy mengatakan, pengawas ujian melakukan prosedur pemeriksaan menggunakan alat pendeteksi logam (metal detector) terhadap setiap peserta UTBK. Mereka menemukan beberapa alat rekam yang dipasang di badan peserta.
“Kami apresiasi pengawas ruangan yang sigap melakukan pemeriksaan sehingga upaya kecurangan bisa digagalkan,” ujarnya.
Ke depan, menurut Edy, USU akan memperketat prosedur pengawasan. Pimpinan USU berharap aparat kepolisian bisa membongkar kasus dugaan kecurangan UTBK itu karena mereka menyinyalir insiden itu melibatkan sindikat bimbingan belajar.
“Kalau kami lihat pola-pola yang dilakukan seperti ini memiliki jaringan. Alat yang mereka gunakan, pakaian yang digunakan, serta keterangan dari beberapa pelaku yang seragam, mengarah kepada hal itu. Namun, sekali lagi, ini ranahnya pihak yang berwajib,” katanya.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengaku sering mendengar adanya sindikat bimbel dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi. Menurut dia, hal tersebut sudah menjadi rahasia umum dan akan berbahaya jika dibiarkan. “Sering terdengar dan menjadi rahasia umum. Jamak diketahui orang sampai dianggap sesuatu yang lumrah. Ini berbahaya kalau dibiarkan,” ujar Ubaid.
Ubaid menjelaskan, fenomena itu menunjukkan setidaknya dua hal. Pertama, kegagalan sekolah melakukan pendidikan. Sebab, banyak anak yang tidak puas dengan sekolah, lalu pergi ke bimbel agar bisa menguasai materi pembelajaran.
“Kalau begini, ngapain ada sekolah? Diganti saja dengan masuk bimbel, tidak usah sekolah,” kata Ubaid.
Kemudian, fenomena tersebut juga dia sebut menunjukkan buruknya pendidikan karakter di lembaga pendidikan. Sebab, peserta yang sudah lulus pendidikan menengah tapi masih bertindak curang untuk dapat masuk menempuh pendidikan ke perguruan tinggi.
“Sudah lulus pendidikan menengah, tapi moralitasnya buruk. Seandainya tidak lulus UTBK, dia bisa saja beli kursi lewat jalur mandiri. Ini kedua belah pihaknya mesti dibenahi,” ujar dia.
Untuk itu, Ubaid menilai, hal yang perlu diberikan sanksi tegas bukan hanya peserta, tetapi juga sindikat bimbel yang saling bantu berbuat curang dalam seleksi masuk perguruan tinggi.
Di sisi lain, evaluasi terhadap kualitas pendidikan Indonesia juga perlu dilaksanakan dengan sebaik mungkin.
“Evaluasi kualitas pendidikan kita. Menjamurnya bimbel itu berarti sekolah kita masih buruk. Kalau kualitas pendidikan di sekolah bagus, anak-anak tidak butuh bimbel,” kata Ubaid.
**ass










Pantas saja pendidikan di Indonesia susah maju. Alih2 malah tersalip jauh oleh malaysia.