Aktualita.co.id – Satu dekade terakhir, gaya hidup masyarakat urban di Indonesia dipenuhi oleh satu kata sakti yaitu healing. Istilah ini menempel di hampir semua kegiatan santai, dari ngopi di rooftop, staycation di hotel, belanja online tengah malam, sampai pesan aromaterapi di aplikasi.
Tapi makin banyak “healing”, makin banyak juga yang mengaku tetap lelah, tetap cemas, dan tetap kosong.
Ironis? Tidak juga. Karena kenyataannya, yang kita sebut healing hari ini, sering kali hanya pelarian, cepat, instan, dan bisa dibayar dengan PayLater.
Healing Sejati Bukan Soal Lokasi
Healing bukan soal tempat, bukan soal mahal atau estetik. Tapi soal koneksi dengan diri sendiri, sesuatu yang justru hilang di tengah hiruk-pikuk gaya hidup pamer, kejar diskon, dan rutinitas kerja tanpa jeda.
Hari ini, orang bisa posting liburan ke Bali, tapi tetap gelisah scroll notifikasi kerja di pinggir pantai. Bisa pesan kopi Rp70 ribu, tapi minumnya sambil bales email dan tekanan target.
Inilah kenapa healing jadi ilusi. Kita memakainya sebagai penanda gaya hidup, bukan proses penyembuhan batin yang utuh.
Kita Butuh Kesadaran, Bukan Pelampiasan
Kalau definisi healing hanya soal “lari dari stres”, maka semua orang bisa terlihat sehat di luar tapi hancur di dalam. Gaya hidup ini akhirnya hanya menunda krisis emosional, bukan menyelesaikannya.
Sebaliknya, healing sejati bisa sangat sederhana:
- Tidur cukup tanpa rasa bersalah
- Bicara jujur pada diri sendiri
- Memaafkan kegagalan, termasuk milik sendiri
- Jalan kaki tanpa niat posting
Dan yang paling penting: berhenti merasa harus baik-baik saja di mata orang lain.
Pilih Waras, Bukan Sekadar Estetik
Kopi enak, staycation menyenangkan, belanja bisa menyegarkan. Tapi semua itu hanya bonus. Kalau isi kepala dan hati masih kacau, tidak ada tempat di dunia ini yang cukup cantik untuk menyembuhkanmu.
Karena healing itu bukan tren, tapi keberanian untuk pulih.









