AKTUALITA.CO.ID – Suasana di Desa Desa Karyamekar berubah semarak saat masyarakat memadati lokasi perayaan Tasyakuran Hajat Bumi dan Hari Jadi Desa ke-42, Sabtu (09/05/26). Acara yang digelar Pemerintah Desa Karyamekar itu berlangsung meriah dengan nuansa budaya Sunda yang kental.
Perayaan tahunan tersebut menjadi ajang mempererat hubungan masyarakat sekaligus menjaga tradisi leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Antusiasme warga terlihat sejak awal kegiatan hingga puncak acara yang menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional.
Penampilan tari daerah dari generasi muda setempat sukses memukau penonton. Namun perhatian utama tertuju pada Pagelaran Wayang Golek Giriharja 3 yang menghadirkan dalang kondang H. Dadan Sunandar Sunarya.
Kepala Desa Karyamekar, Jaji, mengatakan kegiatan Hajat Bumi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas keberkahan hasil bumi dan kondisi desa yang aman serta harmonis.
“Perayaan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pengingat agar masyarakat tetap menjaga budaya dan kebersamaan. Semoga Desa Karyamekar semakin maju dan masyarakatnya makin sejahtera,” ujarnya.
Momentum milangkala ke-42 Desa Karyamekar juga menjadi simbol kuatnya semangat gotong royong warga. Pemerintah desa berharap nilai silih asah, silih asuh, dan pelestarian budaya Sunda terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas masyarakat.
Omah (45) warga Desa Karyamekar menyebut sedekah bumi merupakan bagian dari tradisi di desa tersebut. Hal itu dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, meski didalamnya ada rasa ketakutan hal seperti ini tidak lagi bisa dilakukan karena adanya proyek bendungan yang saat ini sedang dikerjakan.
“Kebiasaan ini bagian dari tradisi warga, tapi kami juga gak tau apa nanti ditahun berikutnya masih bisa mengadakan acara seperti ini tau tidak, karena adanya proyek bendungan dari pemerintah menghabiskan Sebagian besar lahan persawahan dan pertanian warga,”ujar Omah.
Menurutnya bukannya lahan pertanian saja yang hilang akibat dampak dari proyek pemerintah ini, Sebagian warga yang terdampak pun harus rela meninggalkan des aini untuk direlokasi ketempat lain.
“Bukan Cuma sawah dan kebon, manusianya pun jika kena gusur harus pindah,”tutupnya.
(Deni Supriadi)









