AKTUALITA.CO.ID – Senyum sumringah terpancar dari wajah para lansia di Kampung Kedep, Desa Tlajung Udik, Minggu (1/2/2026) pagi. Mereka antre dengan tertib di Sekretariat Komunitas Berbagi Jalan Lurus (Jalur) untuk mengikuti program “Tebus Murah” sembako yang rutin digelar tiga kali setahun.
Hanya dengan uang Rp15.000, warga sudah bisa membawa pulang paket berisi minyak goreng kemasan, satu kilogram gula pasir, dan tepung terigu. Harga ini tentu jauh di bawah harga pasar, karena sisa biayanya telah disubsidi oleh komunitas melalui dana sedekah.
Ketua Komunitas Jalur, Hendra, mengungkapkan bahwa program ini adalah bentuk “hadiah” bagi warga yang aktif dalam gerakan Kaleng Sedekah Subuh. Namun, ada alasan mendalam mengapa pihaknya tidak menggratiskan sembako tersebut.
“Awalnya dulu memang sempat kami gratiskan. Tapi setelah evaluasi, kami merasa konsep gratis total itu justru berisiko membangun mental ketergantungan. Kami ingin warga tetap merasa berdaya dan punya martabat dengan cara menebus, meski harganya sangat murah,” jelas Hendra kepada SuaraBotim.Com, Senin (2/2).
Gerakan yang sudah eksis sejak 2022 ini memang dikenal punya napas gotong royong yang kuat. Dana yang dikelola berasal dari koin-koin sedekah subuh warga sendiri, yang kemudian diputar kembali untuk membantu mereka yang membutuhkan, terutama para lansia dhuafa.
Selain meringankan urusan dapur, momen ini dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi antarwarga. Hendra menilai, kehadiran fisik warga di sekretariat saat menebus sembako menciptakan kedekatan emosional yang tidak didapat jika bantuan hanya sekadar diantar ke pintu rumah.
“Filosofinya sederhana saja; dari warga, oleh warga, dan kembali untuk warga. Kami hanya ingin menghadirkan senyum dan meringankan sedikit beban ekonomi mereka dengan cara yang mendidik,” pungkasnya.
(Pandu)









