AKTUALITA.CO.ID – Kasus infeksi menular seksual yang biasanya mengenai area kelamin, rektum, atau mulut, namun bisa juga menyerang mata. Meskipun persentasenya kecil, namun kesalahan diagnose bisa menambah kasus sifilis yang mengenai mata yang dikenal sebagai sifilis okuler.
Sifilis sendiri di masyarakat dikenal dengan sebutan raja singa dan prevalensi kasus sifilis pada mata hanya sekitar 1 persen dari total kasus sifilis. Namun, kasus nyata yang terjadi di masyarakat diperkirakan lebih tinggi dari angka tersebut.
Sifilis okuler bisa memunculkan gejala yang mirip dengan masalah mata lain. Karena itu, kondisi ini tak jarang salah terdiagnosis sebagai penyakit mata lain.
Kesalahan diagnosis tersebut dapat membuat sifilis okuler terus berkembang dan menyebabkan lebih banyak masalah kesehatan. Padahal bila ditemukan sejak dini, sifilis okuler dapat diobati dan disembuhkan dengan mudah.
“Bila terdeteksi, kondisi ini bisa diobati secara cepat dengan antibiotik,” ungkap profesor di bidang oftalmologi dari University of Southampton, Prof Andrew Lotery, dikutip dari RMOL, Jumat (8/12/2023).
Sifilis okuler yang tidak diobati bisa memicu terjadinya kerusakan pada berbagai jaringan di mata. Jaringan-jaringan di mata yang bisa terkena sifilis okuler mencakup kornea, iris, orbit, retina, saraf optik, sklera, hingga kelopak mata.
Individu yang terkena sifilis okuler bisa merasakan beragam gejala. Menurut laman resmi Eye Contact, beberapa gejala tersebut adalah mata merah, sensitif terhadap cahaya, sakit pada mata, dan penurunan ketajaman penglihatan.
Bila mengenai retina, sifilis okuler bisa memunculkan gejala yang mirip seperti penyakit genetik bernama retinitis pigmentosa. Jika dokter salah mendiagnosis sifilis okuler sebagai retinitis pigmentosa, pasien mungkin tidak akan mendapatkan terapi yang signifikan karena tidak ada terapi spesifik untuk menyembuhkan retinitis pigmentosa.
“(Bila tak terdiagnosis dan diobati) sifilis okuler dapat menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan termasuk kebutaan permanen,” ungkap Centers for Disease Control and Prevention (CDC), seperti dikutip dari laman resminya.
Selain memicu kerusakan pada berbagai jaringan di mata, sifilis okuler yang tidak diobati juga dapat menyebabkan komplikasi pada organ lain. Salah satu organ yang bisa ikut terkena adalah otak.
Sifilis pada dasarnya merupakan IMS yang diakibatkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada 1493 dan masih cukup banyak ditemukan hingga saat ini.
Penyakit ini bisa mengenai berbagai organ di tubuh, termasuk mata. Sifilis okuler bisa terjadi pada semua tahap atau stadium sifilis, termasuk sifilis primer dan sekunder.
Meski bisa diobati dengan antibiotik, sifilis sering kali tidak terdeteksi selama bertahun-tahun. Ketika akhirnya sifilis tersebut terdeteksi, pasien sudah memiliki beragam masalah kesehatan lain yang serius.
Menurut Prof Lotery, infeksi HIV cukup umum ditemukan pada pasien-pasien sifilis. Oleh karena itu, pasien yang terdiagnosis sifilis perlu menjalani tes HIV juga.
“Infeksi HIV bisa mempercepat laju penyakit sifilis okuler,” tutur Prof Lotery.
Prof Lotery menyatakan bahwa upaya pencegahan sifilis yang utama adalah melakukan hubungan seksual yang sehat. Sebagai contoh, hanya berhubungan seksual dengan pasangan sah dan melakukan hubungan seksual dengan pengaman.
** yev/rmol









