AKTUALITA.CO.ID – Besarnya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Provinsi (BOP) yang dikucurkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah kepada setiap Sekolah Negeri ternyata tak cukup membuat Kepala Sekolah berhenti untuk meminta sumbangan kepada orang tua siswa dengan dalih bantuan sukarela.
Bukan hanya itu saja, keterbukaan public akan realisasi penggunaan dana BOS dan BOP yang seharusnya dipampang di sekolah hal tersebut pun tidak dilakukan. Seperti hal yang terjadi di SMPN 195 Kota Administrasi Jakarta Timur. Dimana ada dugaan indikasi penyalahgunaan dana BOS dan BOP, baik untuk penyediaan internet, ATK, Mamin maupun untuk pemeliharaan gedung sekolah yang jumlahnya sangat fantastis.

Untuk diketahui, SMPN 195 Kota Administrasi Jakarta Timur menganggarkan Rp.85.660.492,- untuk belanja Internet/TV pada tahun anggaran 2022, serta renovasi gedung sekolah yang mencapai Rp.570.942.790, anggaran penyediaan Alat Tulis Kantor dan Makan Minum yang juga cukup fantastis.
Salah satu siswa alumni AR mengatakan, jika selama dirinya bersekolah di SMPN 195 tidak pernah menggunakan internet sekolah, bahkan saat ujian pun dirinya membeli kouta sendiri, “ Gak pernah pake kuota sekolah dan gak ada juga kayanya, soalnya gak pernah dikasih tau kalo disekolah ada internet yang bisa dipakai sama siswa,” ungkapnya kepada Aktualita.co.id, Minggu (18/6/23).
Sementara, Kepala SMPN 195 Kota Administrasi Jakarta Timur Rahman, Saat disambangi untuk dimintai keterangan beberapa waktu lalu tak bersedia menjelaskan, “ Silahkan tanya ke Dinas Pendidikan mengenai realisasi penyerapan dana BOS dan ke Sudin kalau BOP, “ cetus Rahman.
Rahman menyebut, bahwa sekolah nya juga menerima langganan koran dari rekan-rekan awak media dan itu kita ambil dari dana BOS untuk membayarnya, “ Wartawan yang koran nya jadi langganan banyak disini pak,” singkatnya, menjawab diluar pertanyaan yang diajukan.
Untuk diketahui, besarnya anggaran pemeliharaan untuk SMPN 195 tak membuat gedung tersebut terlihat berbeda, pasalnya masih ada kaca jendela yang lepas, plafon yang menghitam karena rembesan air hujan, engsel pintu yang tidak ada, kondisi pagar, keramik, dan toilet yang jauh dari kata terpelihara. Tidak adanya keterbukaan publik akan penggunaan anggaran BOP dan BOS, serta penyerapan anggaran lain di SMPN 195 tersebut terlihat adanya pekerjaan konstruksi yang tidak disertai papan proyek sebagai informasi dasar asal anggaran.
Paruhum S









