AKTUALITA.CO.ID – Sebanyak 180 siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dari berbagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di DKI Jakarta mengikuti kegiatan Peningkatan Literasi Siswa melalui Pembuatan Konten Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025. Program ini digelar oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pada 11–12 September 2025.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu program prioritas Kemendikdasmen dalam pembangunan kebahasaan dan kesastraan. Tujuannya, melahirkan generasi muda yang tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten digital yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menekankan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan pemanfaatan yang bijak. “Teknologi informasi bisa bernilai positif bila digunakan dengan baik dan sesuai norma. Namun tanpa batasan dan pengawasan, justru bisa menjadi bumerang bagi generasi muda,” ujarnya, Minggu (14/09/25).
Menurut Hafidz, pelatihan ini menjadi ruang penting agar siswa memahami cara memanfaatkan media digital secara tepat. “Saya berharap para peserta tidak berhenti di pelatihan, tetapi juga menghasilkan karya kreatif yang inspiratif dan menumbuhkan budaya literasi di kalangan generasi muda,” harapnya.
Dalam kegiatan ini, siswa mendapatkan pembekalan dari praktisi konten dan media, seperti Harry Widi Gunawan (Kreatif Kertas Putih Production) dan Teguh Setiawan (Institut Media Digital Emtek/IMDE). Materi yang diberikan mencakup strategi media, penyusunan skrip, teknik produksi konten video untuk media sosial, hingga praktik pembuatan konten.
Tema yang diangkat berfokus pada isu kebahasaan dan kesastraan, mulai dari kesalahan bahasa di ruang publik, ejaan, bahan bacaan bermutu, perkamusan, keterkaitan bahasa dan hukum, hingga pemodernan bahasa dan sastra. Dengan itu, para siswa diarahkan menghasilkan konten edukatif yang menarik sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa Indonesia.
Hafidz juga menegaskan pentingnya mengutamakan bahasa Indonesia di tengah maraknya penggunaan bahasa asing. “Bahasa Indonesia adalah identitas dan pemersatu bangsa. Penggunaan bahasa asing yang tidak pada tempatnya bisa menggerus kecintaan kita pada bahasa sendiri. Karena itu, generasi muda harus berani menghadirkan konten kebahasaan yang inspiratif dan bermanfaat,” jelasnya.
Antusiasme peserta pun terlihat jelas. Salah satu siswi SMK Negeri 46 Jakarta Sachi mengaku pandangannya berubah setelah mengikuti kegiatan ini. “Awalnya saya pikir membuat konten kebahasaan itu membosankan. Tapi setelah belajar produksi konten dan sinematografi, ternyata sangat menarik. Bahasa Indonesia bisa dikemas dengan cara kreatif bahkan viral kalau dikerjakan serius,” ucapnya.
Sementara itu, guru SMKN 6 Jakarta, Yunita, menilai kegiatan ini sangat relevan di era globalisasi. “Anak-anak kita mahir bermain media sosial, tapi sering hanya untuk hiburan. Lewat pelatihan ini, mereka belajar bahwa media digital bisa jadi ruang kontribusi yang bermakna. Saya yakin literasi siswa meningkat, sekaligus memperkuat rasa bangga mereka terhadap bahasa Indonesia,” tuturnya.









