AKTUALITA.CO.ID – Angka pengangguran di Kabupaten Bogor pada tahun 2025 mengalami kenaikan 0,35 dari 7,34 menjadi 7,69.
Hal itu disampaikan Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bogor, Nana Mulyana, yang menjelaskan bahwa peningkatan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, baik dari kondisi ekonomi global maupun struktur investasi di daerah.
Nana menerangkan bahwa secara umum, sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia juga mengalami peningkatan angka pengangguran.
“Hampir rata-rata kabupaten/kota ada kenaikan. Bahkan Kota Bogor mencapai delapan persen. Untuk Kabupaten Bogor pada 2024 berada di angka 7,34 persen,” ujarnya.
Menurutnya, lanjut Nana, angka tersebut setara dengan sekitar 210 ribu pengangguran dari total angkatan kerja di Kabupaten Bogor.
Memasuki tahun 2025, angka pengangguran di Kabupaten Bogor kembali naik sebesar 0,35 persen, sehingga kini berada di level 7,69 persen.
“Presentase kita memang lebih rendah dari Kota Bogor, tetapi jumlah penduduk Kabupaten Bogor jauh lebih besar,” jelas Nana.
Salah satu penyebab utama meningkatnya pengangguran adalah jenis investasi yang masuk ke Kabupaten Bogor. Menurut Nana, sebagian besar investor adalah perusahaan padat modal, bukan padat karya.
Padahal, kata Nana, sektor padat karya seperti garmen dan tekstil merupakan penyerap tenaga kerja terbesar. Namun, industri tersebut justru banyak yang hengkang dari Kabupaten Bogor.
“Banyak pabrik garmen atau tekstil pindah ke Jawa Tengah karena Upah Minimum Kabupaten (UMK) di sana masih di bawah Rp 3 juta. Upah itu masuk ke ongkos produksi, sehingga harga produk dari Bogor tidak bisa bersaing di pasaran,” jelasnya.
Selain itu, serbuan produk impor murah dan dagangan ilegal seperti baju bekas juga membuat industri lokal kalah bersaing.
Daya Beli Turun, Ekonomi Lesu
Nana juga menyoroti melemahnya daya beli masyarakat yang memperburuk kondisi ekonomi. “Daya beli masyarakat lagi rendah. Ini ikut mempengaruhi perusahaan dalam membuka lowongan baru,” katanya.
Menurut Nana, pengentasan pengangguran tidak hanya menjadi tugas Disnaker. Pasalnya, Disnaker hanya bertugas memfasilitasi antara pencari kerja dan pemberi kerja.
“Masalahnya sekarang pemberi kerja sedang lesu. Investasi yang masuk pun padat modal, bukan padat karya,” jelasnya.
Untuk menekan angka pengangguran, Pemerintah Kabupaten Bogor mendorong pengembangan sektor informal seperti, Industri pariwisata, Restoran dan hotel, Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Konten kreator digital, Pertanian modern dan Koperasi Merah Putih (MBG) yang menyerap banyak tenaga kerja.
“Sektor informal sangat potensial. Anak muda jangan hanya jadi penikmat TikTok, lebih baik menjadi pembuat konten. Yang penting bukan status bekerja formal, tapi menghasilkan pendapatan,” tegas Nana.
Di sektor pertanian, ia menyoroti peluang produksi buah seperti pisang yang sangat dibutuhkan oleh MBG.
Lebih lanjut, Nana Mulyana juga menyampaikan, optimismenya bahwa kondisi ekonomi Kabupaten Bogor akan membaik pada tahun 2026 di bawah kepemimpinan Bupati Bogor, Rudy Susmanto.
“Saya optimis 2026 ekonomi Indonesia, khususnya Kabupaten Bogor, akan bangkit. Pak Bupati sangat konsen dalam mengentaskan kemiskinan dan menurunkan angka pengangguran,” pungkasnya.
(Pandu)









