AKTUALITA.CO.ID – Wacana program nasional “Gentengisasi” yang diusulkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto disambut antusiasme luar biasa oleh para pelaku usaha material bangunan. Program penggantian atap seng atau asbes menjadi genteng tanah liat ini dinilai sebagai “obat” mujarab bagi kelesuan pasar yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.
Dukungan penuh mengalir dari Munah Herlina Busubul, pemilik Distributor Busubul Genteng di Kelurahan Karadenan, Cibinong. Menurutnya, gagasan Presiden bukan sekadar soal estetika, melainkan kebijakan yang memihak pada kenyamanan rakyat dan industri dalam negeri.
“Saya sangat mendukung sekali program Pak Prabowo. Genteng tanah liat jauh lebih estetik, nyaman, ramah lingkungan, dan tentu lebih adem di dalam rumah dibanding seng atau asbes,” ujar Munah saat ditemui Aktualita.co.id, Jumat (6/2/2026).
Sebagai distributor yang mengambil pasokan langsung dari Jatiwangi, Majalengka, Munah berharap kebijakan ini bisa menggerakkan kembali roda ekonomi di sentra produksi genteng terbesar di Jawa Barat tersebut.
“Kalau produksi di Jatiwangi maju, otomatis kami distributor di Bogor ikut maju. Ini artinya memajukan produksi dalam negeri. Beberapa bulan lalu pasar benar-benar ‘gubrak’ (turun drastis), jadi program ini adalah angin segar bagi kami,” ungkap wanita yang sudah menekuni bisnis genteng sejak 2004 ini.
Mengenai anggapan bahwa genteng tanah liat lebih mahal, Munah menepis hal tersebut. Saat ini, harga genteng kualitas Jatiwangi berkisar antara Rp3.500 hingga Rp4.500 per buah. Jika dihitung secara jangka panjang, genteng tanah jauh lebih ekonomis karena daya tahannya yang mencapai puluhan bahkan ratusan tahun.
“Genteng tanah liat itu tahan lama. Genteng bongkaran kota tua saja masih bagus dan punya nilai jual. Kalau seng atau genteng metal, ada masanya pasti berkarat dan rusak,” jelasnya.
Meski program pemerintah belum sepenuhnya dieksekusi secara masif, Munah mengaku sudah mulai merasakan adanya pergerakan pasar. Efek psikologis dari wacana “Gentengisasi” mulai menarik minat sektor proyek perumahan untuk kembali menggunakan material tanah liat.
“Bahkan tadi pagi saja sudah ada tiga pembeli yang datang. Saya berharap ke depan pemerintah juga memberikan subsidi atau memprioritaskan pembelian dari sentra-sentra perajin kecil agar perputaran ekonomi terus berjalan,” pungkasnya.
Dengan pengalaman puluhan tahun di industri ini, Munah optimis program Gentengisasi nasional akan membawa kejayaan kembali bagi genteng tanah liat Indonesia yang sempat tergerus oleh tren atap lembaran.
(Pandu)









