AKTUALITA.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mengungkapkan bahwa terdapat tiga kecamatan di wilayah Puncak yang memiliki potensi tinggi terjadinya bencana longsor.
Ketiga wilayah di Kabupaten Bogor tersebut yaitu Kecamatan Cisarua, Megamendung, dan Ciawi. Penelaah Teknis Kebijakan BPBD Kabupaten Bogor, Damar Adi Hartaji, menjelaskan bahwa ketiga kecamatan itu memiliki kondisi geografis yang berisiko tinggi, sehingga rentan terjadi longsor terutama saat intensitas hujan meningkat.
“Rawan longsor untuk di wilayah Puncak itu hampir tiga kecamatan itu rawan. Dari Cisarua, Megamendung, terus Ciawi, itu masing-masing punya potensi untuk bencana longsor,” ujarnya, Sabtu (6/12/25).
Damar menerangkan bahwa lokasi ketiga kecamatan yang berada di kawasan tinggi serta berdekatan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi salah satu penyebab utama tingginya potensi longsor.
“Karena mereka lokasinya itu ketinggian, terus juga berdampingan dengan DAS aliran sungai, jadi potensi longsor itu sangat memungkinkan,” jelasnya.
Selain faktor geografis, alih fungsi lahan di kawasan Puncak disebut semakin memperparah risiko longsor. Banyak area yang sebelumnya merupakan lahan berhutan kini berubah menjadi kebun sayur maupun permukiman. “Yang tadinya ada pohon, sekarang beralih fungsi jadi kebun sayur atau permukiman. Itu yang sering menyebabkan longsor,” ungkap dia.
Ia menekankan pentingnya upaya penghijauan kembali serta pengendalian alih fungsi lahan untuk mengurangi potensi bencana di masa mendatang. Terlebih, ia mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan rawan untuk mulai mengenali tanda-tanda potensi longsor dan menjaga lingkungan sekitar.
“Potensi longsor itu jauh lebih tinggi. Yang pasti harus peduli dengan lingkungan, sampah, dan segala macamnya. Mulai melakukan penanaman pohon, jangan mudah menebang pohon. Penghijauan itu sekarang sangat dibutuhkan,” tutupnya.
Sementara, salah satu warga Cisarua Alwi (45) mengaku apa yang disampaikan oleh BPBD memang ada benarnya terkait alih fungsi lahan hutan di puncak yang menjadi tanaman sayuran, namun tidak bisa benar-benar disalahkan itu penyebabnya.
” Karena tidak sedikit dari lahan itu berubah jadi villa, hotel dan tepat wisata. Itulah yang harus lebih diperhatikan oleh pemerintah, jangan terfokus pada petani yang hanya merubah dari pohon kayu ke sayuran,” tandasnya.
(Pandu)









