AKTUALITA.CO.ID – Perjuangan panjang harus dilalui seorang balita Fawwas Rosdiana asal Desa Getrakmoyan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, yang menderita penyakit serius sejak usia sangat dini. Balita tersebut didiagnosis mengalami atresia bilier dan hernia, dua kondisi medis yang membuat keluarganya harus bolak-balik menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit rujukan.
Fawwas adalah anak kedua yang terlahir kembar dari pasangan Viantika dan Asep Rosdiana. Sang ayah bekerja sebagai sopir pabrik, sementara sang ibu sepenuhnya mendampingi perawatan anaknya.
Keterangan itu disampaikan langsung oleh pihak keluarga, Vantika Ibunda dari Fawwas menjelaskan, penyakit yang diderita anaknya terdeteksi sejak usia masih sangat kecil.
“Awalnya atresia bilier, yang kedua itu hernia. Kalau atresia bilier, gejala awalnya mata sama badan kuning,” ujarnya. Sabtu (10/1/2026)
Melihat kondisi tersebut, keluarga tidak tinggal diam. Anak itu langsung dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Rumah sakit pertama yang didatangi adalah Rumah Sakit Ciremai. Namun karena kondisi Fawwas tidak memungkinkan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
“Jadi langsung dibawa ke rumah sakit saat itu. Ya, pertama ke Rumah Sakit Ciremai, karena di lab HB-nya rendah, jadi dirujuk ke sana, ke RSHS,” katanya.
Sejak diketahui mengidap atresia bilier dan hernia, Fawwas telah menjalani operasi dua kali di RSHS Bandung.
“Sudah dua kali operasi. Sebelum cangkok hati mah, kayaknya bakal kayak gini terus,” lanjut Vantika.
Hingga kini, keluarga masih berharap adanya uluran tangan dari berbagai pihak agar operasi pendonor hati dapat segera dilakukan. Mereka berharap, dengan bantuan masyarakat dan kepedulian bersama, balita tersebut bisa mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih sehat. “Sebelum cangkok hati, kondisinya ya akan seperti ini terus,” pungkas Vantika.
Kepala Desa Getrakmoyan, Junandi, mengatakan operasi yang dibutuhkan bukan hanya soal tindakan medis biasa. Meski biaya operasi sudah ditanggung BPJS, ada kebutuhan lain yang tidak kalah besar, yakni biaya pendonor hati.
“Pembedahan ini kaitannya dengan biaya pendonor, karena untuk operasi sendiri memang sudah pakai BPJS. Tapi operasi hati itu butuh pendonor hati, dan pendonor itu biayanya besar,” jelasnya.
Ia memperkirakan kebutuhan biaya untuk pendonor hati bisa mencapai ratusan juta rupiah. “Diperkirakan kurang lebih sekitar Rp150 juta, mungkin,” Junandi.
Dengan keterbatasan tersebut, keluarga akhirnya membuka donasi kepada masyarakat sekitar. Upaya itu dilakukan secara swadaya dengan melibatkan perangkat desa dan kader PKK.
“Dari pemerintah desa sekarang ini membuka donasi ke warga masyarakat di desa. Saya sempat membuka donasi,” kata Junandi.
Ia menyebutkan, kader PKK turun langsung ke warga untuk menggalang bantuan. “bu-ibu kader PKK keliling ke warga masyarakat,” ungkapnya.
Namun, dana yang terkumpul hingga kini masih jauh dari kebutuhan. Saat ditanya jumlah donasi sementara, ia menyampaikan dengan jujur. “Sementara sih baru dua blok, mungkin sekitar Rp5 jutaan kurang lebih,” ungkap Junandi.
Kondisi balita tersebut pun masih memprihatinkan. Ia menceritakan bahwa anaknya baru bisa tertawa saat berusia dua bulan, namun gejala penyakit tetap terlihat jelas.
(Deni Supriadi)









