AKTUALITA.CO.ID – Maraknya kasus penyakit campak di sejumlah wilayah di Indonesia membuat masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Dr. Fusia Meidiawaty mengimbau warga agar tetap waspada terhadap penyebaran penyakit menular tersebut serta memperkuat langkah pencegahan sejak dini.
Menurutnya, campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat mudah menular dan dapat menyerang siapa saja yang belum memiliki kekebalan tubuh terhadap virus tersebut.
“Campak adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular, disebabkan oleh virus Morbilli. Penyakit ini paling sering menyerang anak, namun dapat terjadi pada siapa saja yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksin. Virus ini dapat menyebar dengan sangat cepat melalui percikan air liur saat penderita batuk, bersin, atau berbicara,” jelasnya, kepada Aktualita.co.id, Sabtu (14/3/2026).
Ia mengungkapkan, kasus campak di Kabupaten Bogor sempat mengalami peningkatan pada periode Agustus hingga September 2025.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak sampai dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena setiap kasus yang ditemukan tidak saling berkaitan satu sama lain.
“Untuk tahun 2026, secara umum kasus campak di Kabupaten Bogor cenderung landai dan tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gejala campak biasanya diawali dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, serta mata merah. Setelah itu, muncul ruam merah pada kulit yang biasanya dimulai dari wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
“Apabila tidak ditangani dengan baik, penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak,” ungkapnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mengimbau masyarakat untuk melakukan berbagai langkah pencegahan, salah satunya melalui vaksinasi. Vaksin campak dan rubella (MR) merupakan cara paling efektif untuk melindungi diri dari penyakit tersebut.
“Vaksin MR diberikan tiga kali, yaitu pertama pada usia 9 hingga 12 bulan, kedua pada usia 18 hingga 24 bulan, dan dosis ketiga pada usia 6 hingga 7 tahun atau saat anak duduk di kelas 1 SD,” jelasnya.
Selain itu, kata Fusia, masyarakat yang belum pernah mendapatkan vaksin atau belum pernah menderita campak juga disarankan untuk melakukan imunisasi susulan kapan saja guna meningkatkan perlindungan tubuh.
Tak hanya itu, disamping vaksinasi, Fusia juga menekankan pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Langkah sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, menutup mulut saat batuk atau bersin, serta menjaga kebersihan lingkungan dinilai efektif untuk membantu mencegah penyebaran virus,” himbaunya.
“Dengan vaksinasi dan penerapan perilaku hidup bersih, kita bisa bersama-sama mencegah penyebaran campak di masyarakat,” pungkasnya.
(Retza)









