AKTUALITA.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapangan Iklim (SLI) dan Sekolah Lapang Gempa (SLG) di Pamegarsari, Parung, Kabupaten Bogor. Senin (01/12/25).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi informasi cuaca, iklim ekstrem, dan pengetahuan kebencanaan bagi masyarakat perkotaan maupun pelaku usaha tani.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Nelly Florida Riama menjelaskan bahwa kegiatan SLI dan SLG merupakan upaya konkret untuk mencerdaskan masyarakat dalam memahami informasi yang disampaikan BMKG.
“Intinya BMKG ingin masyarakat semakin cerdas. Kami memberikan pengetahuan agar masyarakat dapat melakukan aktivitas sesuai dengan informasi yang diberikan oleh BMKG,” ujar Nelly.
Ia menyebutkan bahwa perubahan iklim semakin terasa, sementara Indonesia termasuk Jawa Barat merupakan wilayah rawan gempa bumi. Hal ini membuat kegiatan edukasi seperti SLI dan SLG menjadi sangat penting.

Dr. Nelly menjelaskan bahwa SLI mengajarkan masyarakat, khususnya para petani, untuk memahami dan memanfaatkan informasi cuaca dari BMKG.
“Misalnya untuk petani, mereka bisa menentukan aktivitas pertanian berdasarkan informasi BMKG, seperti curah hujan dan kondisi cuaca. Ini sangat dibutuhkan untuk menentukan pola tanam dan antisipasi musim,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa daerah saat ini memasuki puncak musim hujan sehingga masyarakat perlu mewaspadai potensi bencana yang dapat timbul dari intensitas hujan tinggi.
Selain itu, kata Dr. Nelly, melalui Sekolah Lapang Gempa, masyarakat dibekali pengetahuan mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi.
“Dengan sekolah ini, saat kami memberikan informasi, masyarakat sudah mengetahui respons yang tepat. SLG mengajarkan bagaimana menghadapi gempa agar masyarakat tidak salah evakuasi,” tegasnya.
Menurut Dr. Nelly, dampak program ini sudah terlihat nyata. Pada sektor pertanian, kegiatan SLI terbukti meningkatkan produktivitas hasil panen.
“Contohnya, para petani dapat meningkatkan produktivitas padi karena menggunakan pengetahuan teknis dari BMKG dan menerapkannya langsung di lapangan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat Rahmat Prasetya menambahkan bahwa pendampingan langsung kepada petani telah dilakukan, salah satunya di wilayah Subang.
“Di Subang, kami mendampingi petani dari awal tanam sampai panen. Dengan kontrol iklim dan cuaca, pertumbuhan tanaman bisa lebih optimal sehingga risiko gagal panen berkurang,” ungkap Rahmat.
Ia menjelaskan, Pendampingan tersebut mencakup monitoring tinggi tanaman hingga penyakit yang muncul pada tanaman padi. Namun, ia mengakui bahwa uji coba masih terbatas.
“Presentasenya sekitar 5-10 persen karena baru uji coba kecil. Kami belum bisa memperluas karena keterbatasan kemampuan di sana,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa, SLI dan SLG telah berjalan sejak 2012 di Jawa Barat maupun secara nasional.
“Hampir 13 tahun berjalan dengan fokus pada komoditas tanaman pangan. Di Jawa Barat sendiri, sejak 2011 sudah dimulai, dan 2012 kami mulai pendampingan hingga level tapak tanaman,” terangnya.
Ditempat yang sama, Koordinator BMKG Provinsi Jawa Barat Dr. Teguh Rahayu yang hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah rawan gempa.
“Jawa Barat memang daerah rawan gempa, baik dari sumber selatan maupun dari darat. Gempa Cianjur, Sumedang, hingga Kertasari semuanya dipicu sesar darat,” ujarnya.
SLG, yang sudah berjalan selama satu dekade, menjadi salah satu langkah mitigasi yang diperkuat BMKG karena gempa hingga kini belum dapat diprediksi secara pasti.
“Yang bisa kita lakukan adalah mitigasi. Melalui SLG, kami harap masyarakat teredukasi agar tidak salah evakuasi. Misalnya, saat di pantai berpotensi tsunami, arah evakuasi berbeda dengan ketika berada di pegunungan,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa wilayah selatan Jawa Barat masih menjadi area dengan aktivitas kasus gempa tertinggi.
“Wilayah selatan lebih dekat dengan megathrust dan juga terdapat Sesar Cimandiri. Jadi aktivitas gempa di daerah seperti Sukabumi masih lebih banyak dibanding wilayah lain,” pungkasnya.
Mohammad Retza Apit









