Aktualita.co.id – Kebijakan baru Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mengatur jam masuk sekolah lebih awal, yakni pukul 06.30 pagi, menuai beragam tanggapan dari masyarakat dan kalangan legislatif. Langkah ini disebut bertujuan membentuk karakter generasi muda melalui pola hidup disiplin dan produktif sejak dini.
Salah satu yang menanggapi kebijakan tersebut adalah anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Komisi IV Hj. Nunur Nurhasdian dari Fraksi PKB. Ia menyatakan bahwa program ini patut diapresiasi, meskipun perlu evaluasi setelah berjalan beberapa waktu.
“Itu kan dari Bapak Gubernur sudah ada himbauannya sendiri. Apakah akan berjalan mulus? Kita lihat nanti. Itu baru ya, kita juga akan melihat di pertengahan apakah itu efektif atau tidak, karena sebuah program itu akan terlihat setelah sudah berjalan beberapa waktu,” ujar Hj. Nunur kepada Aktualita.co.id, Minggu (13/07/25).
Ia menilai bahwa kebijakan masuk sekolah lebih pagi bisa menjadi kebiasaan yang baik bagi siswa, terutama dalam membangun disiplin sejak usia dini.
“Saya mengapresiasi kebijakan yang dibuat oleh Bapak Gubernur. Kalau memang anak-anak harus masuk pukul 06.30, itu akan menjadi pembiasaan yang menurut saya bagus. Jadi bisa bangun lebih awal, dan jika sudah terbiasa, akan lebih bagus lagi,” tuturnya.
Namun, Nunur juga mengingatkan bahwa kebijakan ini harus dilihat secara menyeluruh, termasuk kendala teknis yang mungkin muncul di lapangan. Jika ada hambatan, ia mendorong agar evaluasi dilakukan bersama antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten.
“Nanti kita lihat apakah ada kendala atau tidak. Kalau memang ada, bisa dievaluasi kembali,” tegasnya.
Sebelumnya, Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kebijakan ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Menurutnya, jam belajar efektif di pagi hari lebih optimal dalam membentuk karakter dan meningkatkan daya serap siswa.
Kebijakan ini juga merupakan bagian dari visi “Generasi Pancawaluya” yang diusung Pemprov Jawa Barat, yaitu membentuk pelajar yang Bageur (berperilaku baik), Cageur (sehat), Bener (benar), Pinter (cerdas), dan Singer (terampil).
Meski menuai apresiasi, sejumlah pihak juga meminta agar kebijakan ini tidak diterapkan secara kaku tanpa mempertimbangkan kondisi geografis dan sosial ekonomi tiap daerah. Proses adaptasi, kesiapan infrastruktur, serta pengawasan akan menjadi kunci keberhasilan program ini di masa depan.









