AKTUALITA.CO.ID – Uji Kompetensi Keahlian (UKK) di SMKN 14 Bandung menjadi penentu penting bagi siswa dalam membuktikan kemampuan yang telah ditempa selama tiga tahun masa pembelajaran, Sabtu (18/4/26).
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ujian akhir, tetapi juga menjadi tolok ukur kesiapan siswa menghadapi dunia kerja maupun berwirausaha.
Kepala SMKN 14 Bandung, Dudi Rudiatna menegaskan, UKK merupakan instrumen utama untuk mengukur keterampilan nyata siswa. Menurutnya, kemampuan praktik jauh lebih penting dibanding sekadar penguasaan teori.
“Yang terpenting bukan anak dapat pelajaran apa, tapi anak bisa apa. UKK menjadi bukti kemampuan mereka,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum pelaksanaan UKK, siswa telah melalui tahapan panjang, mulai dari pelatihan hingga pra-UKK.
Hasilnya, kata dia, mayoritas siswa dinilai telah terampil dan mampu menyelesaikan proyek sesuai standar industri. Produk yang dihasilkan pun tidak hanya menjadi nilai akademik, tetapi juga portofolio yang dapat digunakan saat melamar pekerjaan.
Lebih lanjut, Dudi menyoroti tantangan berikutnya yang dihadapi siswa, yakni pemasaran produk. Untuk itu, melalui mata pelajaran kewirausahaan dan program Teaching Factory (TEFA), siswa dibimbing agar mampu mempromosikan serta menjual hasil karyanya.
“Melalui TEFA, siswa didorong memasarkan produk mereka. Bahkan, sebagian sudah menerima pesanan dari luar,” katanya.
Ia mencontohkan, siswa jurusan desain dan produksi kriya keramik telah berhasil mendapatkan pesanan, baik dari lingkungan pertemanan maupun pihak eksternal.
Program ini juga mendorong kemandirian siswa dalam berwirausaha, baik dengan memanfaatkan fasilitas sekolah maupun secara mandiri dari rumah.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Arry Rulyawan mengungkapkan, pelaksanaan UKK di setiap jurusan dilakukan berbasis proyek dan portofolio.
Beragam hasil karya dihasilkan siswa, mulai dari pengecatan kendaraan pada jurusan teknik perbaikan bodi otomotif, pembuatan batik khas Bandung pada jurusan kriya tekstil, produksi guci dan gelas dari jurusan kriya keramik, hingga pembuatan lampu hias dan cermin pada jurusan kriya kayu.
Selain itu, lanjut dia, siswa jurusan kriya kulit membuat tas dan sepatu yang diawali dari bahan imitasi sebelum menggunakan kulit asli.
Tidak hanya itu, siswa jurusan animasi menghasilkan film animasi, sementara jurusan desain grafis dan fotografi diuji langsung oleh pihak industri.
“UKK ini mengukur kompetensi akhir siswa sebelum lulus, apakah sudah siap masuk dunia kerja atau berwirausaha,” jelas Arry.
Ia menambahkan, sejumlah siswa bahkan telah dilirik industri sebelum lulus. Beberapa di antaranya menjalani uji kompetensi langsung di tempat kerja karena telah diterima sejak masa praktik kerja lapangan (PKL).
Dengan keterlibatan industri dalam proses penilaian, UKK juga menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk memastikan kompetensi lulusan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
(Pandu)









