AKTUALITA.CO.ID – Sekolah Dasar Negeri 05 Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor yang terpaksa belajar di lantai tanpa meja dan kursi tidak akan lama lagi mendapatkan bantuan Meubelair dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.
Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor melalui Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Kabid Sarpras), Yanto Pradipta menyampaikan, Dinas pendidikan Kabupaten Bogor mendapat info dari seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Bogor, mulai dari wilayah barat sampai wilayah timur, kami di bulan oktober melakukan pendataan kurang lebih ada sekitar 360 sekolah yang terindikasi beberapa ruang kelasnya ngampar.
“Kami sedang bertahap juga, kemarin di perubahan ada sekian puluh sekolah, di perubahan sekarang juga ada sekitar kurang lebih 200 sekolah yang akan kami bantu untuk pengadaan Meubelair nya,” ucapnya kepada Aktualita.co.id, Rabu, 19/11/25).
Untuk bantuan Meubelair SDN O5 Cicadas, masih Yanto mengatakan, untuk tahun kemarin sudah dapat 1 ruang kelas, kemudian tahun ini masih kekurangan juga.
“InsyaAllah di perubahan tahun 2025 ini kami penuhi,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, kondisi memprihatinkan terjadi di SDN 05 Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Puluhan siswa di sekolah tersebut terpaksa belajar di lantai tanpa meja dan kursi karena fasilitas mebelair yang tidak memadai dan rusak parah.
Keluhan ini disampaikan langsung oleh Kepala Sekolah SDN 05 Cicadas Lilis Hasanah saat menerima kunjungan anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi PKS, H. Achmad Fathoni yang datang meninjau kondisi sekolah, Senin (28/10/25).
“Yang paling urgent itu kebutuhan mebelair. Siswa kelas 5 dan 6 sekarang belajar tanpa meja dan kursi karena jumlahnya tidak cukup. Banyak yang rusak, goyang, dimakan rayap, bahkan patah,” ujar Lilis Hasanah.
Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. Pihak sekolah terpaksa tetap menggunakan perabot rusak karena tidak ada pilihan lain.
“Kami setiap tahun mengajukan permohonan bantuan, tapi belum juga terealisasi. Terakhir kali kami menerima bantuan mebelair itu tahun 2017,” terangnya.
Selain kekurangan mebelair, ia juga mengeluhkan sekolah yang juga belum memiliki laptop, padahal perangkat tersebut dibutuhkan untuk pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).
“Setiap kali ANBK, kami harus meminjam laptop ke sekolah terdekat. Tahun kemarin kami meminjam ke SDN Parung Tanjung 01. Di sini sama sekali belum ada laptop,” kata Lilis.
(Deni Dawer)









