AKTUALITA.CO.ID – Di balik musibah jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) di Sulawesi Selatan, terselip kisah pilu dari kediaman Dwi Murdiono (39) di Tajurhalang. Sang istri, Sinta Jayanti (38), mengungkap komunikasi terakhir yang tak disangka menjadi salam perpisahan dari suaminya.
Sinta menceritakan bahwa komunikasi melalui pesan singkat terjadi pada Sabtu pagi (17/1/2026) sekitar pukul 08.00 WIB, tepat sebelum Dwi bertolak dari Yogyakarta menuju Makassar untuk misi patroli kelautan.
“Sabtu jam delapan pas mau berangkat, dia bilang, ‘Mih, Abi nanti jam delapan, kalau enggak diundur berangkat ya’. Terus saya balas, ‘Iya, bismillah ya, hati-hati’,” ujar Sinta dengan suara pelan saat ditemui SuaraBotim.Com, Senin (19/1/2026).
Usai percakapan singkat itu, Sinta tak lagi menerima kabar. Padahal, Dwi dikenal sebagai sosok yang disiplin memberi kabar setiap kali mendarat atau tiba di hotel tempatnya menginap.
Kegelisahan Sinta mulai memuncak saat pihak kantor menghubunginya pada pukul 12.00 WIB. Meski merasa ada yang tidak biasa, Sinta mencoba tetap tenang dan menepis prasangka buruk.
“Kantor menelepon jam dua belas. Saya sempat kaget, tapi saya bilang ke diri sendiri untuk tetap percaya, bismillah saja,” tuturnya.
Namun, harapan itu berubah menjadi duka ketika pada pukul 14.00 WIB, pihak perusahaan mengirimkan pesan resmi yang menyatakan pesawat yang ditumpangi Dwi telah dinyatakan hilang kontak (lost contact) dan memohon doa dari pihak keluarga.
Sinta mengenang pesan rutin yang selalu ia sampaikan setiap kali sang suami dinas luar kota. Pesan sederhana yang kini menjadi kenangan terakhir yang membekas di ingatannya.
“Terakhir sebelum berangkat saya cuma bilang, ‘Jangan lupa kabarin’. Biasanya kalau saya pesan begitu, dia sesibuk apa pun pasti menyempatkan waktu untuk memberi kabar kalau sudah sampai,” pungkasnya lirih.
Kini, Sinta dan keluarga besar di Bojonggede hanya bisa menanti di depan layar televisi dan terus menjalin komunikasi dengan pihak PT IAT, berharap ada keajaiban dalam proses pencarian yang masih berlangsung di medan berat perbatasan Maros–Pangkep tersebut.
(Pandu)









