AKTUALITA.CO.ID – PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) menyatakan dukungan penuh terhadap ajakan Bupati Bogor Rudy Susmanto untuk menjadikan kawasan Malasari, Kecamatan Nanggung, sebagai simbol kebangkitan sekaligus pengingat sejarah berdirinya Kabupaten Bogor.
Sebagai wujud komitmen tersebut, PPLI menggelar rangkaian kegiatan diskusi sejarah dan napak tilas di pendopo pertama Bupati Bogor yang berada di Desa Malasari. Kegiatan ini turut diisi dengan penyerahan bibit pohon endemik Nirmalasari serta berbagai jenis pohon keras yang akan ditanam di kawasan hutan dan pegunungan Malasari sebagai bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan dan pelestarian sumber daya air.
Manager PR dan Legal PPLI Arum Tri Pusposari mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menghormati nilai sejarah kawasan yang pernah menjadi pusat pemerintahan pertama Kabupaten Bogor.
“Ini bentuk dukungan kami melalui kegiatan positif di Malasari, sekaligus memberikan bibit pohon dan menjaga lingkungan agar tetap asri,” ujar Arum. Selasa (28/07/26).

Sementara itu, Laboratory Manager PPLI Muhammad Yusuf Firdaus menegaskan, pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama demi menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.
“Kita ini hanya meminjam warisan alam dari generasi yang akan datang. Karena itu kita memiliki kewajiban menjaga dan mengembalikannya dalam kondisi yang baik,” katanya.
Yusuf menjelaskan, sejak 2024 PPLI secara konsisten menjalankan program penanaman pohon di berbagai wilayah Kabupaten Bogor. Namun, menurutnya, keberhasilan rehabilitasi lingkungan tidak hanya diukur dari banyaknya pohon yang ditanam, tetapi juga dari keberhasilan merawatnya hingga tumbuh besar.
“Kami berharap penanaman pohon tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar dirawat sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan,” ujarnya.
Selain program penghijauan, PPLI juga terus mendorong pengelolaan limbah industri yang bertanggung jawab sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Menurut Yusuf, meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas industri membuat pengelolaan limbah menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.
“Limbah industri diproduksi setiap hari dan setiap jam. Karena itu harus dikelola secara baik dan benar. Selain mengelola limbah sesuai ketentuan, kami juga memiliki komitmen menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, perusahaan juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional mengenai pengelolaan limbah yang aman serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
“Ingat, kita hanya meminjam alam dari generasi yang akan datang. Mari bersama-sama merawat alam dan bumi ini,” tuturnya.
Nilai historis Malasari turut diungkapkan oleh keturunan generasi keempat Kepala Desa Malasari pertama Usep Malasari. Ia mengisahkan bahwa rumah yang kini dijaganya menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat Agresi Militer Belanda II pada 1948.
Menurutnya, Bupati Bogor pertama Raden Ipik Gandamana memilih Malasari sebagai pusat pemerintahan darurat karena wilayah tersebut dinilai paling aman dari ancaman penjajah.
“Dulu saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948, Pak Ipik Gandamana diamanahkan mempertahankan pemerintahan mulai dari Jasinga, Sukajaya hingga Malasari. Beliau memutuskan Malasari sebagai tempat yang paling aman,” ujarnya.
Rumah bersejarah tersebut hingga kini masih menyimpan berbagai peninggalan perjuangan, seperti bendera pusaka tahun 1948, meja kerja, dan meja makan yang digunakan pada masa pemerintahan darurat.
Sebagai generasi penerus, Usep mengaku memiliki tanggung jawab moral menjaga warisan sejarah tersebut agar tetap lestari dan dapat menjadi bagian dari identitas Kabupaten Bogor.
“Saya diamanahkan orang tua bukan untuk mencari keuntungan. Alam ini harus dijaga agar pendopo dan sejarah Kabupaten Bogor tetap bisa dinikmati generasi sekarang maupun yang akan datang,” katanya.
Akademisi sekaligus pemerhati lingkungan Associate Professor Dr. Yayan Sudrajat menilai, kelestarian hutan merupakan fondasi utama keberlangsungan kehidupan masyarakat karena berperan menjaga ketersediaan oksigen dan sumber air.
Menurutnya, upaya konservasi tidak cukup hanya dengan menanam pohon, tetapi juga perlu didukung pemetaan kondisi lingkungan secara berkala.
“Yang penting adalah mendata berapa banyak mata air yang masih berfungsi dan berapa yang sudah beralih fungsi. Itu menjadi dasar dalam menyusun langkah konservasi ke depan,” ujarnya.
Yayan juga mendorong setiap rumah tangga memiliki Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat di bidang kesehatan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Diketahui, Bupati Bogor Rudy Susmanto mengajak seluruh masyarakat menjadikan Malasari sebagai simbol kebangkitan sekaligus pengingat sejarah berdirinya Kabupaten Bogor. Menurutnya, kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi tersebut tidak boleh lagi tertinggal dalam pembangunan.
Rudy menegaskan bahwa Malasari memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai titik awal Bogor berdiri justru menjadi titik paling belakang dalam perkembangan Kabupaten Bogor,” tegas Rudy. (Retza)









