AKTUALITA.CO.ID – Anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi PKS H. Achmad Fathoni menyerap langsung aspirasi para kader PKK se-Kecamatan Bogor Timur, Daerah Pemilihan (Dapil) II Kabupaten Bogor. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan tugasnya sebagai wakil rakyat dalam mendengarkan berbagai kebutuhan dan masukan dari masyarakat.
H. Achmad Fathoni mengungkapkan terdapat sejumlah usulan yang menjadi perhatian serius, dan akan diperjuangkan agar dapat ditindaklanjuti, terutama terkait pendamping Posyandu dan pemberdayaan Dasawisma.
“Saya memang menyempatkan untuk menyerap aspirasi agar menjadi bagian dari pelaksanaan tugas saya sebagai anggota DPRD. Dari berbagai aspirasi yang disampaikan, ada beberapa hal yang menurut saya cukup menarik dan penting untuk menjadi perhatian,” ujarnya saat kegiatan Bimtek PKK se-Bogor Timur, di Megamendung, Kabupaten Bogor. Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, salahsatu persoalan yang menjadi perhatian adalah keberlanjutan program pendamping Posyandu. Ia menjelaskan, program tersebut pernah diinisiasi pada masa Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) bersama Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan.
Melalui program tersebut, kata Fathoni, setiap Posyandu memiliki tenaga pendamping yang anggarannya berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Informasinya program ini masih berjalan, tetapi pada periode sekarang belum tersedia anggarannya. Nanti akan kami coba perjuangkan kembali melalui pemerintah provinsi agar program tersebut dapat dilanjutkan,” katanya.
Fathoni juga menyampaikan bahwa berdasarkan penjelasan dari Kepala Bidang DPMD Kabupaten Bogor, sebenarnya telah tersedia alokasi anggaran yang dapat dimanfaatkan melalui BHPRD, Dana Desa, maupun Bantuan Keuangan (Bankeu). Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat kendala karena belum seluruh pemerintah desa mengalokasikan anggaran tersebut.
“Terkadang pemerintah desa tidak menganggaran itu karena mungkin ada yang lebih prioritas. Tetapi secara regulasi, alokasinya sudah tersedia. Ini yang nantinya akan kami ingatkan agar bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Selain persoalan Posyandu, Fathoni juga menyoroti pentingnya penguatan peran Dasawisma. Menurutnya, jumlah kelompok Dasawisma jauh lebih banyak dibandingkan Posyandu karena setiap kelompok terdapat sepuluh rumah tangga di setiap RT. Hal tersebut dinilai sebagai potensi besar dalam mendukung pembangunan berbasis masyarakat.
“Dasawisma sebenarnya merupakan program yang luar biasa apabila benar-benar diberdayakan. Karena itu, kami berharap ke depan ada program-program khusus untuk pembinaan Dasawisma agar fungsinya dapat kembali berjalan sesuai tujuan awal pembentukannya,” pungkasnya.
(Retza)









