Aktualita.co.id – Peryataan mengejutkan terlontar dari Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Dr. Fusia Meidiawaty dalam sambutannya ketika menghadiri undangan mewakili Bupati Bogor Rudy Susmanto di acara bantuan untuk anak Suspect Stunting di RS Medika Jonggol pada Sabtu (15/03/25). Dia mengungkapkan bahwa di Kabupaten Bogor angka stunting cenderung meningkat.
“Kabupaten Bogor dengan penduduk 5,6 juta jiwa yang luar biasa. Maka, sebenernya kalo kita lihat dari proporsi jumlah stunting kita ini bisa dikatakan mungkin tidak terlalu tinggi, tapi kalo secara absolut di akhir Tahun 2024 jumblah Stunting kita Ada diangka 7722. Ini cukup tinggi,” papar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Dr. Fusia Meidiawaty.
Lanjut Fusia mengungkapkan, bahwa angka Stunting di Kabupaten Bogor sempat menurun dan lalu kemudian ketika ditanyakan kembali kepada teman-teman di Bidang Kesehatan Masyarakat, teryata sudah ada kecenderung meningkat kembali.
“Ini kalo kita lihat per Kecamatan Tahun 2024, Kecamatan Jonggol memiliki 160 anak Stunting atau sekitar 2,2 persen dari angka kabupaten,” ungkapnya.
Lalu kemudian, dengan adanya kecenderungan angka yang naik jumlah yang naik, menurutnya harus ada peran serta dari semua pihak untuk mengatasi dan berperan serta dalam upaya preventif masalah-masalah Stunting di Kabupaten Bogor.
“Kita ketahui bahwa Stunting ini merupakan masalah kurang gizi kronis, kata kuncinya adalah kurang gizi kronis. Berarti, ini adalah masalah yang tidak tiba-tiba menjadi satu masalah, ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang lama, sehingga memang kita tau bahwa penyebab dari stunting ini tentu saja adalah kurangnya asupan
gizi pada ibu hamil dan kurangnya asupan gizi pada bayi dan anak dibawah usia 2 tahun,” jelasnya.
“Upaya preventif yang kita lakukan bukan hanya kepada anak-anak yang sudah terdampak Stunting, tapi mulai dari ibu-ibu pada saat hamil gizinya harus kita jaga. Disinilah peran dari petugas kesehatan dari kader-kader Posyandu, sehingga kita berharap dengan peningkatan kualitas dari ibu-ibu Posyandu lalu kemudian keperdulian dari tenaga kesehatan maka ibu-ibu hamil sudah harus bisa terjaga gizinya sehingga dia tidak melahirkan anak-anak Stunting. Lalu kemudian ibu-ibunya sudah terjaga maka anak-anak nya juga kita jaga asupan gizinya. Ini merupakan permasalahan yang tidak hanya dimiliki oleh fasilitas kesehatan saja, tetapi ini masalah kita bersama,” pungkasnya.
(Deni Dawer)









