AKTUALITA.CO.ID – Tim Desa Tangguh Bencana (Destana) Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, telah tiba di lokasi bencana alam banjir di Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat.
Setibanya di lokasi pada pukul 13:00, tim langsung bergerak melakukan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak.
Pada hari pertama, Destana Tlajung Udik mengerahkan empat orang untuk pendistribusian makanan, yaitu Abdul Harly, Novri, Zati Hanani, dan Cholay.
Panitia penggalang dana Tlajung Udik Peduli sekaligus Sekretaris Desa Tlajung Udik, Abdul Harly, mengatakan kondisi di lapangan hingga saat ini masih belum sepenuhnya stabil.
Pasalnya, banjir kembali melanda wilayah tersebut pada Jumat (2/1/26), bertepatan dengan hari keberangkatan tim dari Bogor.
“Kondisinya sebetulnya masih belum stabil. Dua hari lalu, tepatnya tanggal 2, air kembali meluap dan banjir lagi. Informasinya, ketinggian air sempat hampir sepinggang orang dewasa,” ujar Abdul Harly kepada Aktualita.co.id, Minggu (4/1/26).
Ia menyebutkan, meskipun saat ini air sudah surut, namun dampak banjir masih sangat dirasakan warga, terutama lumpur tebal yang menutupi permukiman dan fasilitas umum.
“Setelah kita tanya ke warga, masih banyak yang membutuhkan bantuan, khususnya untuk pembersihan lumpur yang tebal-tebal,” jelasnya.
Namun, Abdul Harly mengatakan, untuk kebutuhan logistik kemungkinan mencukupi karena banyaknya bantuan dari berbagai relawan di Indonesia sudah mulai berdatangan. Namun demikian, kebutuhan jangka panjang masih menjadi perhatian serius.
“Kalau logistik, bisa dibilang hampir dari seluruh Indonesia ada yang membantu. Mudah-mudahan tercukupi. Tapi yang paling ditunggu warga saat ini adalah hunian sementara, bahkan hunian tetap,” ungkapnya.
Abdul Harly menjelaskan, setibanya di Padang, tim Destana Tlajung Udik tidak berlama-lama beristirahat. Kurang dari satu jam setelah tiba, tim langsung bergerak ke sejumlah titik terdampak.
“Belum sempat makan siang, kami langsung bergerak. Saya bersama Bang Kolai menuju dua lokasi berbeda untuk distribusi bantuan,” katanya.
Pada tahap awal, Destana Tlajung Udik langsung menyalurkan sebanyak 600 porsi makanan siap saji kepada warga terdampak. Penyaluran dilakukan bersama beberapa relawan dari komunitas lain.
Penyaluran makanan tersebut berada di dua lokasi yaitu Brandon Lapai, RT.02/02 Kecamatan Nanggalo, Kota Padang dan Lapau nungguo, RT.02 06 Kecamatan Kuranji. Kota Padang.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Walaupun saat kami datang air sudah tidak ada, tapi sisa lumpur masih becek di mana-mana. Katanya Jusuf Kala bakal memberikan alat berat excavator untuk pembersihan lumpur, tapi belum tahu kapan direalisasikan,” ujarnya.
Selain lumpur, lanjut Abdul Harly, kebutuhan air bersih juga masih menjadi kendala bagi warga di sejumlah titik.
“Air bersih masih sulit. Sebagian dibantu pemerintah, sebagian lagi warga mengambil dari wilayah terdekat yang tidak terdampak,” jelas Abdul Harly.
Ia mencontohkan, di salah satu wilayah RW 04 terdapat enam RT, namun hanya tiga RT yang terdampak banjir cukup parah.
Destana Tlajung Udik sendiri tidak hanya fokus pada satu titik lokasi. Tim melakukan penilaian kondisi dan berpindah ke beberapa lokasi terdampak sesuai kebutuhan di lapangan.
“Di Padang ini ada beberapa desa dan RW yang terdampak. Jadi tidak hanya satu titik. Posko kita memang di satu lokasi, tapi besok kita akan bergeser ke lokasi lain. Hari ini saja kita sudah masuk ke tiga lokasi berbeda,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu relawan pecinta alam yang tergabung dalam tim Destana Tlajung Udik, Supriadi Cholay, menyampaikan bahwa sejumlah lokasi masih tertutup lumpur dan material kayu akibat banjir.
“Saat ini beberapa titik masih terendam lumpur dan potongan kayu. Tim sudah melakukan pendistribusian makanan siap saji serta pendampingan trauma healing kepada warga,” ujarnya.
Supriadi Cholay menambahkan, masih terdapat beberapa titik yang belum terjangkau pendistribusian makanan cepat saji maupun pembersihan lumpur, terutama di sepanjang jalan utama yang terdampak banjir.
“Ada beberala titik yang belum bisa terjangkau untuk menyalurkan makanan karena akses jalan yang dipenuhi lumpur,” tutupnya.
(Pandu)









