Aktualita.co.id _ Banyak hal yang menarik pada hasil pemilu 2024 ini, walaupun masih berbasis hitung cepat dari berbagai lembaga survei. Pertama, prediksi hasil survei lebih rendah dibandingkan hasil hitung cepat. Pemilu-pemilu sebelumnya atau pada umumnya hasil survei lebih tinggi dari hasil pemilu, terutama pada pasangan Prabowo-Gibran. Hampir tidak ada lembaga survei yang menyatakan pasangan Prabowo-Gibran tidak sampai diangka 55 persen.
” Bahkan sebagian besar lembaga survei menyatakan Prabowo ada di kisaran 43-48 persen. Namun, hasilnya beda jauh dengan hasil survei, bahkan ada lembaga survei yang menyatakan kemenangan Prabowo-Gibran sampai 60 persen,” ungkapnya kepada Aktualita.co.id.
Lebih lanjut Yusfitriadi mengatakan, Kenaikannya dalam waktu singkat sangat cepat, kondisi ini tersebar hampir diseluruh Provinsi di Indonesia. Kedua, suara pasangan Ganjar-Mahfud hasil hitung cepat rata-rata menyatakan lebih rendah dari suara PDIP. Maksimal sama antara pemilih PDIP dengan pemilih pasangan Ganjar-Mahfud.
” Artinya banyak konstituen PDIP yang tidak memilih pasangan Ganjar-Mahfud. Atau maksimal pasangan Ganjar-Mahfud tidak mampu mengambil simpati masyarakat yang bukan konstituen PDIP,” tandasnya.
Hasil hitung cepat, sambung kang Yus, rata-rata lembaga survei menyatakan suara Ganjar- Mahfud hanya 16-17 persen, sama dengan perolehan suara PDIP dalam hasil cepat 15-17 persen. Ketiga, Konstituen PPP tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap suara Ganjar-Mahfud. Walaupun sampai saat ini, hasil hitung cepat belum ada lembaga survei yang menyatakan PPP sampai 4 persen, namun dengan melihat hasil Ganjar-Mahfud, hasil suara PDIP dan hasil suara PPP, maka hampir bisa dipastikan PPP tidak memberikan kontribusi pada suara pasangan Ganjar-Mahfud.
” Mungkin bisa jadi konstituen PPP lebih memilih pasangan pasangan Anies- Muhaimin. Sehingga fenomena di atas, tentu saja memberikan kontribusi atas kemenangan pasangan Prabowo-Gibran satu putaran,” cetusnya.
” Mengapa kondisi ini terjadi. Saya melihatnya ada pada 4 faktor. Pertama, entitas kekuasaan Jokowi,” tambahnya.
Sehingga, Ia meneruskan, pengaruh Jokowi sebagai presiden akan mampu mengerahkan struktur negara untuk bergerak dan berpihak ke pasangan Prabowo-Gibran. Selain itu, akan sangat mudah memformulasikan program-program pemerintah untuk kepentingan kampanye bagi pemenangan Prabowo-Gibran. Termasuk dalam mengendalikan penyelenggara pemilu, sehingga semua infrastruktur politik kekuasaan bergerak untuk kemenangan pasangan Prabowo-Gibran.
” Kedua, entitas Jokowi sebagai magnet pengaruh, sampai saat ini tingkat kepercayaan publik baik publik dalam negri maupun publik internasional masih diatas 70 persen. Kondisi ini tentu saja akan menarik banyak pengaruh bagi publik, pengaruh inilah yang membawa publik untuk memilih pasangan calon yang diusung oleh Jokowi,” ucapnya.
” Ketiga, branding gen Z dan Gen Millenial. Gibran telah berhasil dibranding sebagai representasi anak muda yang berani tampil mengambil posisi pemimpin tertinggi di republik ini, sehingga kondisi ini mampu mempengaruhi banyak kelompok muda untuk ikut dalam gerbong Gibran,” sambungnya.
Salah satu bukti, banyaknya artis dan selebritis lainnya yang berada di barisan Gibran. Bahkan selebritis yang mempunyai pengaruh besar di Indonesia. Selain para Selebritis, Influenzer juga banyak yang bergabung untuk kemenangan Prabowo-Gibran.
Keempat, Issu elit. Munculnya berbagai gerakan dan narasi kritis dari banyak kalangan akademisi, kelompok masyarajat sipil, para pengamat dan pakar politik merupakan isu elit tidak masuk ke tataran masyarakat di akar rumput.
” Termasuk munculnya Film Dirty Vote, hanya membuat keriuhan di tataran masyarakat elit, bahkan sangat mungkin pada tataran masyarakat akar rumput film tersebut dimaknai sebagai penghasutan. Terlebih munculnya film tersebut pada masa tenang menjelang hari pemungutan suara,” pungkasnya.
** Nay Nur’ain









