AKTUALITA.CO.ID _ LS Vinus akan melaksanakan 4 kali survei sampai menjelang tahapan pemungutan dan pemungutan suara tanggal 27 November 2024 mendatang. Survei LS Vinus menjelang pilkada ini tidak hanya yang berkaitan dengan tingkat elektabilitas, tapi juga hal-hal yang bersifat pendidikan politik bagi masyarakat Kota Bogor.
Salah satunya mengenai pengetahuan masyarakat Kota Bogor terhadap penyelenggaran pemilihan kepala daerah, dan juga pertanyaan terkait kepuasan masyarakat Kota Bogor terhadap kinerja penyelenggara pemilu baik KPU maupun Bawaslu. Begitupun terhadap kepuasan masyarakat Kota Bogor terhadap kinerja pemerintahan Kota Bogor, baik eksekutif maupun legislative. Hal tersebut disampaikan Yusfitriadi yang merupakan Founder LS Vinus, Kamis (2/5/24).
Yusfiriadi menyebut, LS Vinus melalui survei ini mengukur perilaku pemilih dalam merespon pilkada Kota Bogor tahun 2024. Dalam konteks elektabilitas Calon Walikota Bogor, masuk ke dalam 5 besar adalah Dedie Rachim dengan 18,63 %, Rusli Phihatevi dengan 14,13 %, Sendi Ferdiansyah dengan 12,25 %, Raendi Rayendra denan, 5,8 % dan Atang Trisnanto dengan 4,13 %.
“ Analisisnya adalah. 5 sosok tersebut mempunyai keunggulannya masing-masing, tentu saja ada hal yang menjadikan kelemahannya,” ungkap Yusfitriadi yang juga sebagai Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik.
Lebih lanjut Kang Yus sapaan akrabnya mengatakan, Keuanggulan 5 sosok tersebut diantaranya, Dedi Rachim merupakan incumbent, sehingga sangat wajar ketika mempunyai elektabilitas yang tinggi di tengah-tengah masyarakat, ditambah berakhir masa jabatannya juga belum lama, sehingga masyarakat dengan berbagai program pemerintah yang melibatkan Dedie masih sangat melekat di masyarakat. Namun kelemahannya, sampai saat ini belum ada partai politik yang secara pasti mengusung, adapun DPP PAN terlihat setengah hati. Selain itu Dedie Rachim saat ini belum bisa keluar dari bayang-bayang Bima Arya, yang saat ini posisioning politiknya semakin melemah.
Adapun Rusli, sambung Ia, mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki yang lain, yaitu kepastian dalam mengikuti pilkada Kota Bogor. Hal itu dibuktikan dengan surat dari DPP dan DPD Golkar Jawa Barat yang menugaskan secara tegas Rusli untuk menjadi Calon Walikota. Sehingga masyarakat diberi kepastian sosok yang sudah pasti menjadi calon Walikota Bogor. Namun kelemahannya masih setengah hati untuk maju di Pilkada, karena posisinya yang terpilih menjadi anggota legislative Kota Bogor. sehingga belum bisa bergerak lebih luas, seperti memasang alat citra diri, sosialisasi dan berbagai pendekatan terhadap masyarakat.
Adapun keunggulan Sendi adalah, massifnya sosialisasi sampai ke masyarakat akar rumput, ditambah dengan stigma supporting presiden RI melalui ibu Negara. Hal itu rasional karena posisinya saat ini sebagai sekretaris Pribadi Ibu Iriana. Selain itu sosoknya yang masih muda, sehingga berpotensi mendapatkan dukungan dari kalangan muda Kota Bogor. Kelemahanya sampai saat ini belum mendapatkan partai politik yang mengusung, namun melalui tingkat elektabilitas yang tinggi, relasi dengan lingkaran kekuasaan serta potensi mendapatkan dukungan dari basis kaum muda, seharusnya partai politik yang tidak mempunyai sosok kuat bisa segera memastikan dukungannya kepada sendi tersebut.
Terkait Raendi Rayendra, sangat rasional menadapat elektabilitas tinggi karena sudah lama bergeraknya, terutama melalui alat citra diri dan komunikasi dengan beberapa partai politik. Selain itu, sering sekali kegiatannya diliput oleh beberapa media. namun seperti halnya yang lain ada beberapa kelemahanya, diantaranya belum ada satupun partai politik yang memastikan dukungannya.
Adapun atang, mempunyai keunggulan berada di partai pemenang pemilu di Kota Bogor yaitu PKS, tentu saja memiliki konstituen yang banyak di Kota Bogor. Kelemahannya, PKS masih menggodog beberapa nama yang akan di dorong di Pilwalkot Bogor, sehingga Atang belum bisa bergerak lebih leluasa dalam mengambil simpati masyarakat. Namun hal yang paling menarik dari 5 sosok tersebut, dominasinya adalah bukan kader yang berproses di partai politik. Hanya Atang dan Rusli, yang lainnya bukan politisi.
“ Pertanyaannya, apakah fenomena ini merupakan kegagalan fungsi perkaderan partai politik, atau memang masing belum dimunculkan oleh partai-partai politik,” jelasnya kepada Aktualita.co.id.
Terkait hasil survei Calon Walikota Bogor, nampaknya masyarakat Kota Bogor tidak terlalu memiliki attensi untuk Calon Walikota Bogor, hal itu dibuktikan dengan rendahnya yang mengisi kuisioner, bahkan nama-nama yang masuk pun tidak telalu jauh berbeda dengan nama-nama yang muncul dalam calon walikota. Atau mungkin sosok-sosok yang ada memasang call tinggi untuk menjadi walikota.
Namun dari hasil survei baik calon walikota maupun calon walikota bogor. masyarakat yang belum menentukan pilihan dan tidak tahu masih sangat tinggi prosentasinya. Gambaran masyarakat Kota Bogor dalam menentukan pilihan walikota maupun wakil walikota, lebih disebabkan 3 hal, yaitu integritas, karakteristik individu dan interaksi dengan masyarakat.
“ Disini saya lihat mencerminkan masyarakat Kota Bogor yang lebih rasional dalam menentukan pilihannya. Ini masih 6 bulan lagi ke tahapan pungut hitung pilkada 2024, sehingga masih banyak waktu untuk para bakal calon meraih simpati masyarakat. harapannya hasil survei ini menjadi rujukan dalam efektitas aktifitas pada bakal calon dalam merebut suara masyarakat Kota Bogor,” cetusnya.
“ Harapan tertinggi masyarakat terhadap walikota terpilih adalah menekan harga bahan makanan pokok, sangat rasional, karena saat ini masyarakat masih banyak yang kesulitan dengan mahalnya bahan makanan pokok. Walaupun secara status sosial banyak kelas atas dan menengah di Kota Bogor, namun bisa jadi sebagai bentuk empati terhadap masyarakat yang masih kesulitan dalam membeli bahan makanan poko, mereka berharap walikota dan wakil walikota terpilih mampu mengendalikan harga-harga tersebut,” tutup Yusfitriadi.
*Rezza









