AKTUALITA.CO.ID – Kabupaten Bogor tercatat sebagai daerah dengan intensitas bencana angin kencang yang cukup tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat, sejak Januari hingga 5 November 2025, telah terjadi 745 kejadian angin kencang di wilayah tersebut.
Data tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas BPBD Kabupaten Bogor Ade Hasrat saat Apel Siaga Darurat Bencana Tahun 2025 yang digelar di Lapangan Tegar Beriman, Rabu (05/11/25).
Menurut Ade, angin kencang menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi dan memiliki tingkat kerawanan tinggi, mengingat peristiwa tersebut sulit diprediksi dan biasanya terjadi secara lokal di sejumlah titik.
“Bencana yang paling banyak terjadi di Kabupaten Bogor adalah angin kencang. Ini sulit diprediksi karena bersifat lokal. Dari total 40 kecamatan, ada 24 kecamatan yang paling sering terdampak angin kencang. Dari bulan Januari sampai hari ini korban atau kejadian angin kencang sudah mencapai 745 kejadian,” ungkap Ade Hasrat kepada Aktualita.co.id.
Selain angin kencang, BPBD juga mencatat jenis bencana lain yang kerap terjadi, yakni banjir sebanyak sekitar 140 kejadian, serta tanah longsor yang angkanya juga tergolong tinggi sepanjang tahun ini.
Ade menjelaskan, Kabupaten Bogor saat ini masih berada dalam status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, yang berlaku sejak bulan sebelumnya dan diperkirakan berlangsung hingga April mendatang. Status ini ditetapkan mengingat potensi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan terjadi.
“Intinya, seluruh perangkat dan komponen yang berkaitan dengan penanggulangan bencana harus tetap bersiaga. Kondisi cuaca hidrometeorologi saat ini cukup mengkhawatirkan karena adanya fenomena ekstrem,” tegasnya.
Terkait penyediaan tenda darurat bencana di tiap wilayah, Ade menyebut BPBD tidak otomatis menyiapkannya di semua titik. Pihaknya terlebih dahulu melakukan kajian cepat pada lokasi terdampak untuk menentukan kebutuhan pengungsian.
“Tidak setiap kejadian bencana ada pengungsi. Karena itu, kami melakukan efisiensi pendistribusian tenda, agar lebih efektif dan tepat sasaran. Tenda-tenda tetap tersedia dan terpusat di posko kami,” jelas Ade.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terutama di wilayah rawan seperti daerah dataran tinggi, lereng, dan kawasan padat permukiman dengan kondisi bangunan rentan. BPBD juga mengajak masyarakat untuk segera melapor jika menemukan tanda-tanda potensi bencana. (Rz)









