AKTUALITA.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan keracunan makanan yang dialami sejumlah siswa di wilayah Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Insiden ini terjadi usai para siswa mengonsumsi menu dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batutulis 08.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan keprihatinannya dan berharap peristiwa serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, penting bagi seluruh penyedia layanan makanan di sekolah untuk memenuhi standar kesehatan.
“Saya prihatin, mudah-mudahan tidak terjadi lagi manakala semua SPPG telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinkes. Kebetulan yang tadi terjadi adalah SPPG yang baru dan belum mempunyai SLHS. Rencananya baru besok mau dilakukan pelatihan,” ujar Dedie, Minggu (16/0/11/25).
Dedie menegaskan bahwa faktor kesehatan anak-anak tidak boleh diabaikan. “Jangan sampai hanya gara-gara kecerobohan kemudian terjadi anak-anak sakit. Tetapi sejauh ini, laporan sudah ditangani oleh Dinkes dan Puskesmas. Semoga tidak bertambah,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Sri Nowo Retno menjelaskan bahwa para siswa yang mengalami gejala telah ditangani di tiga puskesmas, Puskesmas Bogor Selatan, Bondongan, dan Lawanggintung. Selain itu, Dinkes juga telah berkoordinasi dengan seluruh rumah sakit di Kota Bogor untuk memastikan kesiapan penanganan jika jumlah pasien bertambah.
Retno menambahkan bahwa penyelidikan epidemiologi telah dilakukan, termasuk wawancara dengan pihak SPPG dan para pasien. “Pengambilan sampel makanan dan spesimen dari pasien juga sudah dilakukan. Kami juga berkoordinasi dengan sekolah untuk melaporkan jika ada kasus tambahan,” tuturnya.
Dinkes juga langsung menginstruksikan penghentian konsumsi makanan yang telah didistribusikan namun belum sempat dimakan siswa.
SPPG Batutulis 08 diketahui mendistribusikan sebanyak 3.992 porsi makanan ke 17 sekolah dalam tiga kloter. Menu yang diberikan terdiri dari nasi, ayam bakar, tumis jagung wortel, susu kotak, dan keripik tempe.
Dinas Kesehatan memastikan bahwa monitoring terus dilakukan, termasuk pemeriksaan sampel makanan di laboratorium, memantau laporan dari rumah sakit dan puskesmas, serta siap melakukan penanganan tambahan bila diperlukan.
“Pemkot Bogor melalui Dinas Kesehatan terus melakukan langkah preventif dan tindak lanjut sebagai antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi,” tegasnya.
(Retza Apit)









