AKTUALITA.CO.ID — Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem layanan kesehatan perempuan yang responsif gender, inklusif, dan berkelanjutan. Hal ini disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi dalam Forum Nasional Kesehatan Perempuan 2026 yang digelar di Kantor Kementerian Kesehatan, Rabu (29/04/26).
Dalam forum tersebut, Arifah menekankan bahwa prinsip “no woman left behind” menjadi fondasi utama dalam memastikan seluruh perempuan Indonesia memperoleh akses layanan kesehatan yang adil dan tanpa diskriminasi. Ia menyebut forum ini sebagai ruang kolaborasi lintas sektor untuk merumuskan langkah konkret dalam pemenuhan hak kesehatan perempuan secara merata.
Menurutnya, perempuan merupakan hampir separuh dari total populasi Indonesia, sehingga kualitas kesehatan perempuan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan. Meski berbagai capaian telah diraih, seperti penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), tantangan masih terus dihadapi, termasuk tingginya kasus kanker serviks yang mencapai puluhan ribu setiap tahun akibat rendahnya kesadaran skrining dan vaksinasi.
Sebagai respons, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menjalankan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) guna meningkatkan deteksi dini penyakit dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan.
Arifah juga menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain memastikan layanan kesehatan yang aman dan ramah perempuan, memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini, memperluas akses layanan hingga wilayah tertinggal, serta mengintegrasikan layanan kesehatan dengan perlindungan terhadap kekerasan. Selain itu, penguatan layanan kesehatan mental dan peningkatan literasi kesehatan perempuan dinilai menjadi kunci penting.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam menjaga kesehatan keluarga. Ia menyebut jaringan layanan kesehatan yang luas, mulai dari puskesmas hingga posyandu, perlu dimaksimalkan hingga ke tingkat rumah tangga.
“Kita ingin peran ibu sebagai penjaga kesehatan keluarga semakin diperkuat menjadi sebuah gerakan nasional yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Dukungan terhadap pendekatan menyeluruh juga disampaikan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Isyana Bagoes Oka. Ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen keluarga, termasuk peran ayah dan remaja, dalam mendukung kesehatan perempuan.
Menurutnya, pendekatan berbasis siklus hidup menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kualitas kesehatan perempuan, mulai dari masa dalam kandungan hingga usia lanjut. Selain kesehatan fisik, aspek kesehatan mental juga harus menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan.
Dengan sinergi lintas sektor dan pendekatan berbasis keluarga, pemerintah berharap upaya peningkatan kesehatan perempuan dapat berjalan lebih optYimal dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
(Deni Supriadi)









