Aktuals
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pendidikan dan Kesehatan
  • Sosok dan Politik
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Aktualita
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pendidikan dan Kesehatan
  • Sosok dan Politik
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Aktuals
No Result
View All Result
Home Pendidikan dan Kesehatan

Mengapa Korupsi Sulit Hilang? Ini Faktor Penyebabnya

sayyev by sayyev
January 24, 2024
in Pendidikan dan Kesehatan
0
Mengapa Korupsi Sulit Hilang? Ini Faktor Penyebabnya

ilustrasi/net

75
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

AKTUALITA.CO.ID – Berita tentang korupsi seolah tak pernah henti, baik itu dilayar kaca, media sosial, maupun media masa. Tak hanya pegawai petinggi, korupsi mulai merambah ke kalangan bawah seperti TPK, Bendahara, bahkan Kepala Desa yang notabene merupakan jabatan karir sementara yang kapan saja bisa berhenti.

Bukan hanya itu saja, korupsi dikalangan pejabat PNS, Bupati, Wali Kota, Menteri seakan menjadi momok yang biasa saja, dan sudah tak asing lagi untuk kita dengar. Mungkin sebagian besar dari rakyat kecil bertanya, kenapa mereka masih saja korupsi, bukankah hidup mereka sudah enak, sudah punya gaji, juga sudah diberikan fasilitas oleh negara yang tidak semua warga negara bisa mendapatkan itu.

Tapi, fakta dan kenyataannya tidak demikian, adanya jabatan, kekayaan bahkan fasilitas ternyata tak membuat seseorang untuk tidak berniat korupsi. Taukan anda ada beberapa faktor yang seseorang itu melakukan korupsi walaupun sudah serba terpenuhi.

Berita lainnya

Pemkot Bogor Perketat SPMB 2026, Cegah Titip KK dan Praktik Kecurangan

Tips Menjaga Kesehatan Mata bagi Pengguna HP dan Laptop

Isu HIV AIDS Beredar, Ketua RW 09 Villa Surya Jaya Beri Edukasi Warga

Alasan seseorang korupsi bisa beragam, namun secara singkat dikenal teori GONE untuk menjelaskan faktor penyebab korupsi. Teori GONE yang dikemukakan oleh penulis Jack Bologna adalah singkatan dari Greedy (Keserakahan), Opportunity (kesempatan), Need (Kebutuhan) dan Exposure (pengungkapan).

Teori GONE mengungkapkan bahwa seseorang yang korupsi pada dasarnya serakah dan tak pernah puas. Tidak pernah ada kata cukup dalam diri koruptor yang serakah. Keserakahan ditimpali dengan kesempatan, maka akan menjadi katalisator terjadinya tindak pidana korupsi. Setelah serakah dan adanya kesempatan, seseorang berisiko melakukan korupsi jika ada gaya hidup yang berlebihan serta pengungkapan atau penindakan atas pelaku yang tidak mampu menimbulkan efek jera.

Jika dijabarkan lagi, faktor penyebab korupsi meliputi dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Mengutip buku Pendidikan Antikorupsi untuk Perguruan Tinggi yang bisa diunduh di sini, faktor internal merupakan penyebab korupsi dari diri pribadi, sedang faktor eksternal karena sebab-sebab dari luar.

Berikut kita bahas penyebab korupsi dari faktor internal dan eksternal ini:

Faktor Penyebab Internal

1. Sifat serakah/tamak/rakus manusia

Keserakahan dan tamak adalah sifat yang membuat seseorang selalu tidak merasa cukup atas apa yang dimiliki, selalu ingin lebih. Dengan sifat tamak, seseorang menjadi berlebihan mencintai harta. Padahal bisa jadi hartanya sudah banyak atau jabatannya sudah tinggi. Dominannya sifat tamak membuat seseorang tidak lagi memperhitungkan halal dan haram dalam mencari rezeki. Sifat ini menjadikan korupsi adalah kejahatan yang dilakukan para profesional, berjabatan tinggi, dan hidup berkecukupan.

2. Gaya hidup konsumtif

Sifat serakah ditambah gaya hidup yang konsumtif menjadi faktor pendorong internal korupsi. Gaya hidup konsumtif misalnya membeli barang-barang mewah dan mahal atau mengikuti tren kehidupan perkotaan yang serba glamor. Korupsi bisa terjadi jika seseorang melakukan gaya hidup konsumtif namun tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai.

3. Moral yang lemah

Seseorang dengan moral yang lemah mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Aspek lemah moral misalnya lemahnya keimanan, kejujuran, atau rasa malu melakukan tindakan korupsi. Jika moral seseorang lemah, maka godaan korupsi yang datang akan sulit ditepis. Godaan korupsi bisa berasal dari atasan, teman setingkat, bawahan, atau pihak lain yang memberi kesempatan untuk melakukannya.

Faktor Penyebab Eksternal

1. Aspek Sosial

Kehidupan sosial seseorang berpengaruh dalam mendorong terjadinya korupsi, terutama keluarga. Bukannya mengingatkan atau memberi hukuman, keluarga malah justru mendukung seseorang korupsi untuk memenuhi keserakahan mereka. Aspek sosial lainnya adalah nilai dan budaya di masyarakat yang mendukung korupsi. Misalnya, masyarakat hanya menghargai seseorang karena kekayaan yang dimilikinya atau terbiasa memberikan gratifikasi kepada pejabat.

Dalam means-ends scheme yang diperkenalkan Robert Merton, korupsi merupakan perilaku manusia yang diakibatkan oleh tekanan sosial, sehingga menyebabkan pelanggaran norma-norma. Menurut teori Merton, kondisi sosial di suatu tempat terlalu menekan sukses ekonomi tapi membatasi kesempatan-kesempatan untuk mencapainya, menyebabkan tingkat korupsi yang tinggi.

Teori korupsi akibat faktor sosial lainnya disampaikan oleh Edward Banfeld. Melalui teori partikularisme, Banfeld mengaitkan korupsi dengan tekanan keluarga. Sikap partikularisme merupakan perasaan kewajiban untuk membantu dan membagi sumber pendapatan kepada pribadi yang dekat dengan seseorang, seperti keluarga, sahabat, kerabat atau kelompoknya. Akhirnya terjadilah nepotisme yang bisa berujung pada korupsi.

2. Aspek Politik

Keyakinan bahwa politik untuk memperoleh keuntungan yang besar menjadi faktor eksternal penyebab korupsi. Tujuan politik untuk memperkaya diri pada akhirnya menciptakan money politics. Dengan money politics, seseorang bisa memenangkan kontestasi dengan membeli suara atau menyogok para pemilih atau anggota-anggota partai politiknya.

Pejabat yang berkuasa dengan politik uang hanya ingin mendapatkan harta, menggerus kewajiban utamanya yaitu mengabdi kepada rakyat. Melalui perhitungan untung-rugi, pemimpin hasil money politics tidak akan peduli nasib rakyat yang memilihnya, yang terpenting baginya adalah bagaimana ongkos politiknya bisa kembali dan berlipat ganda.

Balas jasa politik seperti jual beli suara di DPR atau dukungan partai politik juga mendorong pejabat untuk korupsi. Dukungan partai politik yang mengharuskan imbal jasa akhirnya memunculkan upeti politik. Secara rutin, pejabat yang terpilih membayar upeti ke partai dalam jumlah besar, memaksa korupsi.

3. Aspek Hukum

Hukum sebagai faktor penyebab korupsi bisa dilihat dari dua sisi, sisi perundang-undangan dan lemahnya penegakan hukum. Koruptor akan mencari celah di perundang-undangan untuk bisa melakukan aksinya. Selain itu, penegakan hukum yang tidak bisa menimbulkan efek jera akan membuat koruptor semakin berani dan korupsi terus terjadi. 

Hukum menjadi faktor penyebab korupsi jika banyak produk hukum yang tidak jelas aturannya, pasal-pasalnya multitafsir, dan ada kecenderungan hukum dibuat untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu. Sanksi yang tidak sebanding terhadap pelaku korupsi, terlalu ringan atau tidak tepat sasaran, juga membuat para pelaku korupsi tidak segan-segan menilap uang negara.

4. Aspek Ekonomi

Faktor ekonomi sering dianggap sebagai penyebab utama korupsi. Di antaranya tingkat pendapatan atau gaji yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Fakta juga menunjukkan bahwa korupsi tidak dilakukan oleh mereka yang gajinya pas-pasan. Korupsi dalam jumlah besar justru dilakukan oleh orang-orang kaya dan berpendidikan tinggi.

Banyak kita lihat pemimpin daerah atau anggota DPR yang ditangkap karena korupsi. Mereka korupsi bukan karena kekurangan harta, tapi karena sifat serakah dan moral yang buruk.

Di negara dengan sistem ekonomi monopolistik, kekuasaan negara dirangkai sedemikian rupa agar menciptakan kesempatan-kesempatan ekonomi bagi pegawai pemerintah untuk meningkatkan kepentingan mereka dan sekutunya. Kebijakan ekonomi dikembangkan dengan cara yang tidak partisipatif, tidak transparan dan tidak akuntabel.

5. Aspek Organisasi

Faktor eksternal penyebab korupsi lainnya adalah organisasi tempat koruptor berada. Biasanya, organisasi ini memberi andil terjadinya korupsi, karena membuka peluang atau kesempatan. Misalnya tidak adanya teladan integritas dari pemimpin, kultur yang benar, kurang memadainya sistem akuntabilitas, atau lemahnya sistem pengendalian manajemen.

Mengutip buku Pendidikan Antikorupsi oleh Eko Handoyo, organisasi bisa mendapatkan keuntungan dari korupsi para anggotanya yang menjadi birokrat dan bermain di antara celah-celah peraturan. Partai politik misalnya, menggunakan cara ini untuk membiayai organisasi mereka. Pencalonan pejabat daerah juga menjadi sarana bagi partai politik untuk mencari dana bagi kelancaran roda organisasi, pada akhirnya terjadi money politics dan lingkaran korupsi kembali terjadi.

Teori Fraud Triangle (TFT)

Teori lainnya soal penyebab korupsi disampaikan oleh peneliti Donald R Cressey yang dikenal sebagai Teori Fraud Tiangle (TFT). Teori ini muncul setelah Cressey mewawancarai 250 orang terpidana kasus korupsi dalam waktu 5 bulan.

Dalam teori tersebut, ada tiga tahapan penting yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan korupsi, yaitu pressure (tekanan), opportunity (kesempatan), dan rationalization (rasionalisasi).

Seseorang memiliki motivasi untuk korupsi karena tekanan, misalnya motif ekonomi yang menjadi pelatuknya. Namun menurut Cressey tekanan ini terkadang tidak benar-benar ada. Seseorang cukup berpikir bahwa dia tertekan atau tergoda pada bayangan insentif, maka pelatuk pertama ini telah terpenuhi.

Kedua adalah kesempatan. Contoh yang paling mudah ditemui adalah lemahnya sistem pengawasan sehingga memunculkan kesempatan untuk korupsi. Menurut Cressey, jika dia tidak melihat adanya kesempatan maka korupsi tidak bisa dilakukan.

Ketiga adalah rasionalisasi. Cressey menemukan bahwa para pelaku selalu memiliki rasionalisasi atau pembenaran untuk melakukan korupsi. Rasionalisasi ini setidaknya menipiskan rasa bersalah pelaku, contohnya “saya korupsi karena tidak digaji dengan layak” atau “keuntungan perusahaan sangat besar dan tidak dibagi dengan adil”. **

Penulis: Nay Nur’ain
(Kabiro Jurnal Bogor Wilayah Bogor Timur)

Tags: korupsiNay Nur’ain
Share30Tweet19Send
sayyev

sayyev

Rekomendasi Untuk Anda

Pemkot Bogor Perketat SPMB 2026, Cegah Titip KK dan Praktik Kecurangan

by Arsyit Syarifudin
May 13, 2026
0
Pemkot Bogor Perketat SPMB 2026, Cegah Titip KK dan Praktik Kecurangan

AKTUALITA.CO.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama jajaran Forkopimda dan Dewan Pendidikan menandatangani Komitmen Dukungan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026. Walikota Bogor, Dedie Rachim menegaskan, seluruh...

Read more

Tips Menjaga Kesehatan Mata bagi Pengguna HP dan Laptop

by Arsyit Syarifudin
May 11, 2026
0
Tips Menjaga Kesehatan Mata bagi Pengguna HP dan Laptop

AKTUALITA.CO.ID - Di era digital, penggunaan HP dan laptop dalam waktu lama sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Namun, terlalu lama menatap layar dapat membuat mata cepat lelah,...

Read more

Isu HIV AIDS Beredar, Ketua RW 09 Villa Surya Jaya Beri Edukasi Warga

by Arsyit Syarifudin
May 11, 2026
0
Isu HIV AIDS Beredar, Ketua RW 09 Villa Surya Jaya Beri Edukasi Warga

AKTUALITA.CO.ID – Maraknya Tempat Hiburan Malam di Kawasan Kecamatan Cileungsi dan beredarnya isu terkait HIV AIDS membuat ketakutan ditengah masyarakat, terutama mereka yang kurang faham akan penularan penyakit...

Read more

Kemenkes Ajak Masyarakat Lawan Obesitas Lewat Gaya Hidup Sehat

by Arsyit Syarifudin
May 11, 2026
0
Kemenkes Ajak Masyarakat Lawan Obesitas Lewat Gaya Hidup Sehat

AKTUALITA.CO.ID — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kembali mengingatkan masyarakat bahwa obesitas bukan hanya persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan serius yang dapat memicu berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes,...

Read more

Ahli Kesehatan Peringatkan Bahaya Konsumsi Alkohol Berlebihan

by Arsyit Syarifudin
May 11, 2026
0
Ahli Kesehatan Peringatkan Bahaya Konsumsi Alkohol Berlebihan

AKTUALITA.CO.ID - Para ahli kesehatan kembali mengingatkan masyarakat tentang bahaya konsumsi alkohol secara berlebihan. Menurut World Health Organization, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko...

Read more
Next Post
Sinergitas TNI – Polri Wilayah Hukum Polsek Babakan Madang Beri Edukasi Warga

Sinergitas TNI - Polri Wilayah Hukum Polsek Babakan Madang Beri Edukasi Warga

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related News

Founder Visi Nusantara Maju

6 Alasan Mengapa Pilkada Melalui DPRD Harus Ditolak

January 5, 2026
Sudah Dibangun, Tower di Dayeuh Masih Belum Bayar Sewa Lahan

Sudah Dibangun, Tower di Dayeuh Masih Belum Bayar Sewa Lahan

May 29, 2023
Pesan Menteri Nusron dalam Forum Pembangunan Wilayah di Sulteng: Tata Ruang Harus Ketat Demi Jaga Ketahanan Pangan

Pesan Menteri Nusron dalam Forum Pembangunan Wilayah di Sulteng: Tata Ruang Harus Ketat Demi Jaga Ketahanan Pangan

July 12, 2025

Telusuri menurut Kategori

  • Daerah
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Headline
  • Hukum dan Kriminal
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan dan Kesehatan
  • Peristiwa
  • Sosok dan Politik
Aktualita

aktualita.co.id merupakan portal berita aktual yang tersaji dengan realita seputar pemerintahan, daerah, pendidikan hingga informasi kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembaca masyarakat Indonesia. aktualita.co.id juga telah tergabung dengan Serikat Media siber Indonesia (SMSI) dan wartawannya tergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Kategori

  • Daerah
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Headline
  • Hukum dan Kriminal
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan dan Kesehatan
  • Peristiwa
  • Sosok dan Politik

Informasi

Redaksi
Karir
Info Iklan
Term & Conditions
Visi dan Misi
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Kode Etik Jurnalistik

© 2024 aktualita.co.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pendidikan dan Kesehatan
  • Sosok dan Politik
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Olahraga

© 2024 aktualita.co.id

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Static Icon
✕
Aktualita.co.id

FREE
VIEW