AKTUALITA.CO.ID – Progres pembangunan Pasar Petani Garuda yang berlokasi di Jalan Raya Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, mengalami hambatan serius akibat kondisi cuaca hujan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, Eko Mujiarto, menjelaskan bahwa curah hujan tinggi membuat pekerjaan konstruksi di lapangan sulit dilakukan.
Meski begitu, lanjut Eko, pihaknya berkomitmen agar pembangunan dapat tetap berjalan sesuai rencana.
“Karena situasi cuaca seperti ini, otak saya adalah otak pembangunan. Walaupun banyak kendala, kita tetap berjuang agar pembangunan Kabupaten Bogor berjalan sesuai perencanaan, termasuk pembangunan pembibitan Pasar Petani Garuda. Mudah-mudahan tetap sesuai rencana walaupun musuhnya cuaca,” kata Eko kepada Aktualita.co.id, Selasa (9/12/15).
Ia menerangkan, kendala terbesar terjadi saat proses perataan tanah. Ketika hujan turun, kondisi tanah berubah menjadi lumpur sehingga kegiatan konstruksi tidak dapat dilakukan.
“Begitu tanah diratakan dan masuk musim hujan, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Tanahnya menjadi bubur, di situ letak kendalanya,” jelasnya.
Namun, Eko juga berharap, pelaksana proyek dapat bekerja maksimal menyesuaikan kondisi di lapangan agar progres pembangunan tetap bergerak. Saat ini, progres pembangunan disebutnya belum mencapai 50 persen.
“Saat ini mungkin belum 50 persen, tapi kami terus mengupayakan semaksimal mungkin. Mudah-mudahan cuaca mendukung. Pelaksana di lapangan juga bekerja simultan menyelesaikan berbagai bagian yang masih dikerjakan,” jelasnya.
Meski terkendala cuaca, Eko tetap menargetkan pembangunan pasar tersebut selesai pada akhir Desember yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Eko juga menyebut, bahwa dirinya akan melakukan pembahasan jika pekerjaan dilanjut tahun 2026 apabila cuaca buruk tetap berlanjut.
“Nanti kita diskusikan apakah bisa lewat tahun karena faktor cuaca. Kecuali cuacanya bagus, tetapi pelaksana tidak mengerjakan sesuai rencana, itu baru kena sanksi,” tuturnya.
“Sekarang ini murni situasi cuaca, kalau dipaksakan bekerja saat hujan, malah makin rusak karena tanah jadi bubur,” tutupnya.
(Pandu)









