AKTUALITA.CO.ID – Berulangnya kasus kematian ikan massal di Situ Citongtut, Kecamatan Gunung Putri, memicu reaksi keras dari pegiat lingkungan. Inisiator Gerakan Pungut Sampah (GPS), Aditia Putra, menegaskan bahwa pencemaran oleh limbah industri di lokasi tersebut adalah “lagu lama” yang tak kunjung menemui solusi konkret.
Aditia mengungkapkan, kejadian serupa telah terjadi berkali-kali sejak 2021. Bahkan, rencana panen ikan massal warga pada 2022 gagal total akibat air yang tiba-tiba berubah menjadi racun limbah.
“Kejadian ini sudah sering, mungkin sudah kelima kalinya. Kami sebenarnya sudah capek. Perusahaan nakal ini seolah tidak takut karena sanksinya hanya administratif atau tipiring, lalu mereka bisa beroperasi lagi,” ujar Aditia kepada SuaraBotim.Com, Senin (26/1/2026).
Berdasarkan pantauan GPS, terdapat sekitar 23 perusahaan aktif yang jalurnya bermuara ke Situ Citongtut. Meskipun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah memasang kamera pengawas (CCTV) di titik pembuangan (outfall), Aditia menilai alat tersebut belum efektif mencegah pembuangan limbah ilegal.
“CCTV itu seperti hanya untuk mencari barang bukti setelah kejadian, bukan mencegah. Ada indikasi kuat, saat intensitas hujan tinggi, perusahaan langsung membuang limbah ke sungai untuk menghindari biaya pengelolaan pihak ketiga,” tegasnya.
Dampak dari ketidaktegasan ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain ikan di keramba yang mati massal dan menimbulkan bau menyengat, roda ekonomi di sekitar situ pun berhenti berputar.
“Dua sampai tiga hari terakhir ekonomi mati. Tidak ada lagi pemancing. Tukang umpan, tukang kopi, semua sepi. Padahal kami menjaga ikan di sini agar tidak dijaring supaya bisa jadi sumber penghidupan warga, tapi malah dirusak limbah,” tambah Aditia.
Dengan nada pesimis, Aditia menyebut masyarakat sudah sering diberi “harapan palsu” terkait penegakan hukum lingkungan. “Harapan saya cuma satu untuk pemerintah: kerja yang benar,” pungkasnya.
(Pandu)









