AKTUALITA.CO.ID – Sejumlah tokoh masyarakat di Kelurahan Puspanegara, Kecamatan Citeureup, menyayangkan aksi penggerudukan di kawasan Ruko Citeureup Indah yang terjadi baru-baru ini. Aksi tersebut dipicu oleh penolakan sekelompok warga terhadap penggunaan nama Pangeran Sake sebagai identitas area pertokoan tersebut.
Tokoh masyarakat Puspanegara, Cakra, menegaskan bahwa pihaknya sangat terbuka terhadap dialog. Namun, ia menilai aksi massa bukanlah jalan keluar yang tepat dalam menyelesaikan perbedaan pendapat terkait simbol sejarah lokal.
“Alangkah indahnya jika ketidaksukaan itu disampaikan dengan duduk bersama secara musyawarah. Kami ingin mengedepankan kekeluargaan agar Citeureup tetap guyub dan kondusif,” ujar Cakra kepada Aktualita.co.id, Kamis (1/1/2026).
Kedepankan Adab dan Musyawarah
Cakra mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi adab dan rasa hormat terhadap para tokoh senior di wilayah Citeureup. Menurutnya, tensi sosial yang sempat memanas bisa diredam jika komunikasi dilakukan dengan kepala dingin.
“Saya sangat menghormati para senior dan tokoh masyarakat di Citeureup. Pertentangan itu wajar, tapi mari kita selesaikan bersama dengan cara yang baik tanpa mengganggu kondusifitas wilayah,” tambahnya.
Senada dengan Cakra, Perlan, seorang warga Puspanegara lainnya, menilai polemik ini terjadi karena adanya sumbatan komunikasi. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang dan semua pihak dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan simbol daerah.
Kesepakatan: Nama Pangeran Sake Tidak Digunakan
Guna menjaga keharmonisan dan ketenangan warga Citeureup, pihak pengelola akhirnya mengambil langkah besar dengan membatalkan penggunaan nama tersebut.
“Demi menjaga kondusifitas masyarakat, kami sepakat nama Pangeran Sake tidak digunakan. Untuk penamaan ruko selanjutnya, kami akan bermusyawarah kembali dengan melibatkan berbagai pihak,” pungkas Perlan.
Mengenal Sosok Pangeran Sake
Sebelumnya, Forum Komunikasi Pemuda (FKP) Citeureup melayangkan penolakan keras karena menilai Pangeran Sake adalah sosok leluhur yang sangat dihormati. Penggunaan namanya untuk area komersial dianggap kurang tepat oleh sebagian kalangan.
Pangeran Sake, atau Pangeran Muhammad Syarifudin Shohe, merupakan putra ke-11 dari Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau adalah sosok sentral dalam sejarah peradaban Islam di wilayah Kabupaten Bogor yang sangat diagungkan oleh masyarakat setempat sebagai waliyullah.
(Pandu)









