Aktualita.co.id – Warga Perumahan Puri Harmoni Pasir Mukti (PHPM), Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, menggelar aksi protes terhadap pengembang perumahan PT Harmoni Bangun Multiguna dan pihak pengelola instalasi pengolahan air (WTP) PT Tirta Harmoni Sejahtera. Aksi ini berlangsung di kantor pemasaran PHPM dan dihadiri puluhan warga yang menyuarakan tuntutan mereka secara langsung.

Ketua RW 07 PHPM Lukman menyampaikan bahwa aksi ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang dialami warga. Ia menegaskan, tuntutan utama warga berkaitan dengan kualitas dan tarif air dari WTP.
“Yang pertama, kami menuntut peningkatan kualitas air dari WTP. Kedua, kami meminta agar harga air dibuat flat, karena selama ini tarifnya berlipat dan terakumulasi. Misalnya, kalau kita hanya menggunakan 1 kubik, kita tetap harus membayar seperti memakai 10 kubik. Kami menuntut keadilan agar yang dibayar sesuai dengan yang dipakai,” ujar Lukman.
Selain itu, warga juga menuntut adanya kontribusi lingkungan dari pihak WTP, mengingat perusahaan tersebut berdiri dan beroperasi di tengah kawasan perumahan.
“WTP berdiri di atas lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum) milik warga, yang sampai saat ini belum ada ganti ruginya. Hal ini juga menjadi poin penting dalam pembahasan kami,” lanjutnya.
Lukman juga menyoroti aktivitas proyek dari pihak developer yang sebelumnya sempat mengganggu kenyamanan warga. “Beberapa waktu lalu alat berat proyek melintas di depan rumah warga tanpa koordinasi, bahkan merusak tanaman. Mereka juga membuat sumur intake di Kali Cileungsi tanpa izin dari lingkungan,” ungkapnya.
Namun, menurut Lukman, pihak manajemen telah menyatakan kesediaan untuk memenuhi sejumlah tuntutan warga. “Dari hasil pertemuan, disepakati bahwa kualitas air akan ditingkatkan dengan uji laboratorium setiap bulan, didampingi oleh perwakilan warga. Tarif air juga akan disesuaikan menjadi sistem flat. Selain itu, pihak developer menyetujui untuk memberikan kontribusi lingkungan,” jelasnya.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa warga masih belum mengetahui kejelasan soal perizinan proyek-proyek tersebut. “Termasuk pembuatan intake baru, itu tanpa izin warga. Kami juga tidak tahu soal perizinan ke BBWS dan dinas terkait lainnya,” katanya.
Sementara itu, Widia Febriyanto Manager Produksi WTP PT Tirta Harmoni Sejahtera menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan warga dan tengah menyusun notulen kesepakatan yang akan diserahkan.

“Hari ini kita sudah bertemu dengan warga dan mencapai titik temu. Notulennya sedang disusun,” ujarnya.
Terkait kualitas air, Widia menyebutkan bahwa pengambilan air WTP berasal dari sungai dan hasil uji laboratoriumnya sudah tersedia. “Ke depannya kami diminta untuk membuat laporan dan menganalisisnya bersama warga,” jelasnya.
Saat ditanya soal frekuensi uji lab sebelumnya, Widia mengakui bahwa belum berjalan secara rutin. Menanggapi penggunaan lahan fasos-fasum, Widia mengklaim bahwa telah ada kerja sama dengan pihak pengembang.
“Sebelumnya hanya dilakukan di awal dan pertengahan, belum terjadwal secara normal. Nantinya jaringan dan sistem uji akan kami benahi,” tuturnya.
“Kami adalah investor yang membantu pengembang dalam pengolahan air bersih, jadi ada kerja sama di situ,” ucapnya.
Sedangkan untuk perizinan pengambilan air dari sungai, ia menjelaskan, “Untuk BBWS, awalnya sudah ada. Sekarang kami sedang memproses perpanjangan izin, juga dengan SDA. Termasuk intake baru, izinnya masih dalam proses,” ungkapnya lagi.
Menanggapi insiden alat berat yang turun ke lingkungan warga tanpa pemberitahuan, Widia mengakui adanya kelalaian. “Ya, memang kemarin kami salah, tidak ada koordinasi karena mengejar cuaca. Saat tidak banjir, kami bisa pasang box cover. Tapi kemarin karena mendadak, alat berat langsung turun. Ini akan jadi bahan evaluasi kami,” pungkasnya.









