AKTUALITA.CO.ID _ Gerakan Indonesia Adil dan Demokratis (GIAD) menggelar diskusi di kantor Visi Nusantara Maju, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (09/08/24). dengan tema “Kotak Kosong Merajalela, Kaum Oligarki Pesta Pora”.
Diskusi yang dipimpin Dea Rahma serta turut dihadirkan empat pembicara dari berbagai lembaga, yaitu Founder Ls-Vinus Indonesia Yusfitriadi, Lima Indonesia Raya Rangkuti, KIPP Indonesia Jojo Rohi, dan Kornas JPPR Rendy Umboh.
Yusfitriadi menyampaikan, fenomena kotak kosong bukan hanya terjadi pada masa sekarang, jauh dari itu pun pernah terjadi.
” Sejak diawali Pilkada, kotak kosong sudah ada, itu tiga kabupaten kota di provinsi. Kemudian 2017 itu ada 9 kotak kosong, 2018 itu ada 16 kotak kosong dan 2020 ada 25 calon yang berpasangan dengan kotak kosong,” ungkap Founder Ls-Vinus Yusfitriadi kepada Aktualita.co.id
” Artinya, bukan hanya sekarang, cuma sekarang terlihatnya adalah kultural, karena memang tidak ada mencalonkan,” tambahnya.
Yus menilai indikasi-indikasi itu (Kotak Kosong) sudah mulai bermunculan dan sudah mulai terlihat. Sehingga, tidak menutup kemungkinan kotak kosong akan menjadi ancaman di Kabupaten Bogor bahkan di setiap provinsi-provinsi.
” Kalau dulu kan tidak keliatan, sekarang sudah terlihat karena memang ada, bukan kultural, tapi ada upaya rekayasa dengan penjegalan dan pemaksaan. Maka saya katakan, kotak kosong itu bisa terjadi tidak ada yang tidak mungkin, ” cetusnya.
Kerena itu Yusfitriadi menilai, demokrasi bukan dirusak dari luar, tetapi dirusak oleh partai politik. Kemudian juga kekuasaan yang tidak bertanggungjawab terhadap berjalannya demokrasi.
“ Harusnya kita sudah maju ke depan, harusnya sudah berbicara demokrasi substantif. Tetapi hari ini malah kita kemudian terancam, demokrasi kita 20 tahun ke belakang,” ucapnya.
Sementara, pengamat dari Lima Indonesia Ray Rangkuti mengatakan, fenomena kotak kosong dalam Pilkada merupakan tanda adanya kemerosotan demokrasi saat ini.
Menurut Ray, fakta tentang Pilpres 2024 yang diwarnai dengan politik cawe-cawe dengan bagi-bagi bansos yang merupakan bagian dari kemerosotan demokrasi.
” Dan jika kini terjadi politik kotak kosong maka itu merupakan hal terburuk dalam demokrasi,” tuturnya.
Lebih lanjut, kata Ray, fenomena kotak kosong memang pernah terjadi tapi itu di Kabupaten dan Kota. “Jika sekarang merambah sampai ke provinsi bahkan Jakarta, itu menandakan bahwa degradasi politik makin menguat, “pungkasnya.
*Rezza/Ns









