AKTUALITA.CO.ID _ Kilas balik kisah masa muda Calon Bupati Kabupaten Bogor Rudy Susmanto, sebelum dirinya masuk kedalam dunia Politik, sempat ingin mengikuti jejak ayahnya sebagai prajurit TNI.
Calon Bupati Kabupaten Bogor Rudy Susmanto menjelaskan bahwa dirinya terlahir menjadi anak Kolong sebelum terjun kedalam dunia politik.
“ Saya terlahir dari keluarga patriot, kakek saya dinas di resimen para komando angkatan darat RPKAD pada saat itu sebelum Kopassus terbentuk dan bapak saya juga anggota TNI beliau saat itu bertugas di Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopasanda),” katanya pada saat Podcast bersama Aktualita.co.id. Rabu (2/10/24).
Rudy mengatakan, bahwa dirinya lahir di asrama Kopassus hingga lulus kuliah pada usia 20 tahun dan ingin menjadi prajurit seperti ayahnya.
“ Karena saya tumbuh diasrama Kopassus di lingkungan TNI , maka saya ingin seperti orang tua saya, sebagai Prajurit TNI,” ucapnya
“ Apalagi saya tumbuh kembang dengan masa tahun 98 masa reformasi, masa dimana saya sebagai anak Kopassus dan kita keluar kemana pun pasti ada bahasa dianggap sebagai anak penculik lah, atau apalah,” ungkapnya.
Dirinya mengatakan jiwa nasionalismenya tumbuh saat lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dan ingin membela negara.
“Jiwa nasionalisme saya tumbuh kembang saat lulus SMA pada tahun 2003. Saya mengingatkan pada diri saya saat itu harus jadi tentara dan harus ikut berperang untuk membela Bangsa Indonesia,” imbuhnya.
“ Karena pada saat itu Aceh, Poso dan Papua masih bergejolak, tidak terpikir untuk masuk kuliah, yang saya pikirkan lulus sekolah harus masuk tentara,” tambah Rudy.
Ia menyebut, pada saat itu dirinya mendaftar seleksi TNI, Polri, Bintara maupun Tamtama namun bapak saya tidak ingin anaknya menjadi Tentara.
” Saat itu bapak saya berkata, bahwa ia tidak mau anak saya jadi tentara, ia mau anak nya kuliah. Saat itu ia berkata kepada saya, mau sesusah atau seperti apapun asal jangan jadi tentara,” tegasnya Rudy menirukan ucapan Alm ayahnya saat itu.
Namun, kata dia, dirinya bersikeras untuk mengikuti berbagai seleksi untuk mengikuti jejak ayahnya menjadi prajurit untuk membela bangsa Indonesia.
“ Saya tetap ngeyel, saya ikut seleksi akpol di Semarang dan TNI angkatan laut. Namun alhamdulillah karena tidak mendapatkan ridho dari orang tua dan dinyatakan tidak lolos,” cetusnya.
Rudy menyebut saat itu, ekonomi keluarganya sangat sederhana. Bapaknya hanya pangkat Tamtama paling rendah Prajurik kelas dua dan pensiun pada pangkat Pembantu Letnan Satu sebagai Babinsa.
“ Kita hidup di asrama TNI juga penuh dengan kesederhanaan, motor dan mobil juga kita tidak punya, kendaraan dinas juga tidak ada karena bapa tidak punya jabatan sebagai prajurit,” tuturnya.
“Keseharian saya dengan kesederhanaan ini kita nikmati, tapi saya sangat bersyukur mempunyai kedua orang tua seperti ini yang sangat cinta kepada anak-anaknya, dan berkat doa mereka saya ada diposisi seperti sekarang ini,” pungkasnya.
**pandu









