AKTUALITA.CO.ID – Semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya Sunda kembali bergelora di wilayah Bogor Timur. Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan, paguyuban pemuda bersama komunitas sound system dari tiga kecamatan Cariu, Jonggol, dan Tanjungsari bersinergi menggelar perhelatan bertajuk “Papajar Budaya” yang dipusatkan di Taman Tematik Lapangan Badak Putih, Cariu, pada Sabtu (14/2/2026).
Berbagai lapisan masyarakat mulai dari kaum ibu hingga generasi muda tumpah ruah mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan unsur kesehatan, seni tradisional, hingga nilai religius.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi Gerindra, Beben Suhendar, yang hadir langsung di lokasi memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif para pemuda dan komunitas sound system yang ia juluki sebagai “para penguasa audio” Bogor Timur tersebut.
“Ada budaya bersih-bersih lingkungan, gotong royong, hingga keliling ronda. Ini adalah identitas Sunda yang hampir ditinggalkan. Lewat Papajar Budaya ini, kita gugah kembali agar masyarakat mencintai adat istiadatnya,” ujar Beben.
“Intinya adalah makan bersama dan bergembira menyambut Ramadan. Sebagai wakil rakyat, saya hadir untuk memberi dukungan dan kebahagiaan bagi konstituen,” tambahnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Muhamad Subur, menjelaskan bahwa acara ini merupakan buah dari kolaborasi erat antar paguyuban di lintas kecamatan.
“Ini diprakarsai oleh teman-teman paguyuban dari Jonggol, Cariu, dan Tanjungsari. Kami ingin tradisi menyambut Ramadan tetap terjaga lewat tajuk Papajar Budaya Sunda,” jelas Subur.
Kehadiran dua tokoh DPRD Kabupaten Bogor, yakni Beben Suhendar (Gerindra) dan Hj. Nunur Nurhasdian (PKB), menambah bobot acara ini. Keduanya secara aktif memberikan dukungan moril maupun materil demi suksesnya perhelatan tersebut.
Di akhir acara, Beben Suhendar menyelipkan pesan menyentuh bagi warga. Ia mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen pengingat akan hakikat kehidupan.
“Mari kita introspeksi diri. Bulan penuh berkah ini mengingatkan bahwa hidup akan berakhir, maka penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat,” pungkasnya.
(Deni Supriadi)









