AKTUALITA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Bogor merencanakan kegiatan napak tilas dari Pendopo Jasinga menuju Pendopo Nanggung sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544. Kegiatan ini untuk mengenang perjalanan sejarah perjuangan tokoh Bogor, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan yang pernah terjadi di wilayah tersebut.
Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi mengatakan, kegiatan napak tilas tersebut rencananya akan melibatkan komunitas secara terbatas, dengan dukungan dari Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Bogor.
“Rencananya bersama teman-teman komunitas secara terbatas, penanggung jawabnya Ketua IMI dengan menggunakan motor. Harapannya nanti ada napak tilas dari Pendopo Jasinga,” ujar Ade Ruhandi kepada Aktualita.co.id, Senin (1/6/2026).
Ia menjelaskan, Pendopo Jasinga memiliki nilai historis yang kuat. Bangunan tersebut difasilitasi langsung oleh Bupati Bogor melalui swadaya masyarakat dan bukan menggunakan anggaran APBD.
Menurutnya, Kehadiran pendopo itu menjadi simbol penghormatan terhadap jejak sejarah perjuangan di wilayah barat Kabupaten Bogor.
“Kawasan Jasinga merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan perjuangan Ipik Gandamana pada masa revolusi. Dulu Pak Ipik Gandamana saat masa revolusi tidak bertahan di ibu kota, tetapi terus bergeser ke sejumlah wilayah yang dinilai aman. Jasinga menjadi salah satu tempat penting karena banyak tokoh lokal yang turut membantu perjuangan mempertahankan pemerintahan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Perjalanan sejarah tersebut kemudian berlanjut ke wilayah Cipanas, yang pada masa itu masih menjadi bagian dari Jawa Barat dan kini masuk wilayah Kabupaten Lebak, Banten.
“Dari sana, perjalanan diteruskan menuju Cileuksa, kemudian melewati Kampung Sarongge atau Jamang, sebelum akhirnya sampai di Nanggung,” tuturnya.
Disana, kata Jaro Ade, setiap titik yang dilalui memiliki kisah tersendiri terkait perjuangan dan dukungan masyarakat setempat terhadap perjuangan Ipik Gandamana.
“Bahkan di salah satu wilayah sana, pak ipik pernah mengangkat seorang anak yang kemudian dibawa hingga ke Bandung,” katanya.
“Perjalanan Pak Ipik pada masa revolusi itu berkeliling ke sejumlah wilayah untuk mencari tempat yang aman. Di setiap tempat itu ada masyarakat lokal, para tokoh, yang ikut membantu perjuangan,” pungkasnya.
(Retza)









