AKTUALITA.CO.ID – Kemacetan panjang di ruas Jalan Cileungsi–Jonggol, tepatnya di depan RS Hermina Mekarsari, semakin sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Penyebabnya adalah proyek pembangunan gorong-gorong jembatan yang hingga kini belum juga rampung, meski seharusnya selesai pada November lalu.
Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp1,3 miliar dari APBD Provinsi Jawa Barat tersebut sebelumnya sempat mendekati tahap akhir. Namun, bagian gorong-gorong yang sudah terpasang justru mengalami kerusakan dan harus dibongkar kembali, sehingga pekerjaan terpaksa diulang.
Wildan warga Cileungsi menyayangkan lambatnya penyelesaian proyek tersebut. Ia bahkan menilai proyek ini sebagai bentuk kegagalan karena justru memperparah arus lalu lintas di kawasan yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan.
“Harusnya proyek itu sudah selesai bulan November kemarin. Sekarang masih dikerjakan. Jembatan yang sudah dipasang dibongkar kembali karena rusak,” ujarnya kepada Aktualita.co.id (07/12/25)
Wildan juga mempertanyakan kualitas pekerjaan serta material yang digunakan. Menurutnya, tidak masuk akal jika konstruksi yang baru dipasang sudah kembali rusak.
“Kalau belum lama selesai kemudian rusak, jelas kinerja proyek ini harus dipertanyakan. Jangan-jangan bahan yang dipakai tidak sesuai. Ini harus diperiksa,” tegasnya.
Sorotan serupa juga datang dari anggota DPRD Kabupaten Bogor Rudi Sabana yang merupakan warga Cileungsi. Ia menilai proyek gorong-gorong tersebut gagal karena kualitas pekerjaan tidak sesuai harapan dan justru menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat.
“Spesifikasi pekerjaan ini patut dipertanyakan. Pekerjaan yang seharusnya sudah selesai justru hanya membuat kemacetan. Bahkan gorong-gorong yang sudah terpasang kini rusak dan dibongkar kembali,” katanya.
Rudi menambahkan, kemacetan panjang akibat proyek ini telah menghambat aktivitas masyarakat, mulai dari pekerja, pedagang, hingga kendaraan darurat yang melintas di sekitar RS Hermina.
“Akibat proyek ini, aktivitas masyarakat terganggu setiap hari. Jalan ini merupakan jalur utama. Kami meminta PUPR Jawa Barat turun tangan karena pembangunan ini dinilai gagal,” tegasnya.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun PUPR Provinsi Jawa Barat terkait kerusakan dan keterlambatan pembangunan gorong-gorong tersebut. Masyarakat berharap pemerintah segera mengevaluasi proyek agar kemacetan tidak terus berlarut-larut.
(Retza)









