AKTUALITA.CO.ID — Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menilai agenda dekarbonisasi tidak semestinya dipandang hanya sebagai tantangan bagi dunia industri. Menurutnya, transisi menuju ekonomi rendah karbon justru dapat membuka berbagai peluang ekonomi baru, mulai dari efisiensi hingga pembiayaan, investasi, dan peningkatan daya saing.
Hal itu disampaikan Suahasil dalam Leaders Talk Pertamina International Shipping bertajuk “The Fiscal Economics of Decarbonization: What It Means for Indonesia’s Shipping Industry”.
Suahasil mengatakan perubahan menuju ekonomi rendah karbon merupakan bagian dari pergeseran lanskap ekonomi global yang perlu diantisipasi oleh dunia usaha.
Ia menegaskan, upaya dekarbonisasi tidak seharusnya diposisikan sebagai penghambat pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, agenda tersebut dapat menciptakan ruang bagi munculnya kegiatan ekonomi dan model bisnis baru.
“Dekarbonisasi yang kita canangkan dan kita pahami, kita yakini harus kita lakukan karena kita ingin mewariskan dunia yang lebih baik itu bukan penghambat pertumbuhan, bukan penghambat kegiatan ekonomi, tetapi sebenarnya dia adalah potensi dari kegiatan ekonomi baru,” ujar Suahasil.
Untuk mendukung proses transisi tersebut, pemerintah terus membangun ekosistem melalui berbagai instrumen kebijakan fiskal. Sejumlah instrumen yang disiapkan antara lain carbon pricing, insentif perpajakan untuk teknologi rendah emisi, skema de-risking, serta pembiayaan berkelanjutan seperti Green Sukuk, Blue Bonds, dan SDG Bonds.
Meski demikian, Suahasil menilai pengembangan pasar karbon domestik masih membutuhkan penguatan. Indonesia telah memiliki Bursa Karbon sejak 2023, namun pasar tersebut dinilai perlu terus dikembangkan agar memiliki likuiditas dan integritas yang semakin baik serta mampu menciptakan mekanisme pembentukan harga yang efektif.
“Karbon yang diproduksi di Indonesia idealnya juga dijual di Indonesia dan demand di Indonesia itu enggak kurang-kurang,” katanya.
Dalam konteks industri pelayaran, Suahasil mendorong perusahaan agar tidak sekadar mengikuti perubahan regulasi. Kebijakan dekarbonisasi perlu diterjemahkan menjadi strategi bisnis yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif.
Menurutnya, peluang dapat diperoleh melalui investasi teknologi rendah emisi, peningkatan efisiensi operasional, pemanfaatan pembiayaan hijau, hingga pemenuhan kebutuhan pelanggan terhadap layanan transportasi yang lebih rendah karbon.
“Agenda untuk di level perusahaan adalah bagaimana menerjemahkan signal kebijakan menjadi keunggulan daya saing,” ujar Suahasil.
Ia juga mengingatkan perusahaan untuk tidak menunggu hingga perubahan menuju ekonomi rendah karbon semakin besar. Langkah lebih awal dinilai dapat memberikan ruang lebih luas bagi perusahaan untuk memanfaatkan peluang yang muncul dari proses transisi tersebut.
Suahasil meyakini perusahaan yang lebih cepat beradaptasi akan memiliki kesempatan lebih besar dalam memperoleh manfaat dari efisiensi, akses pembiayaan, maupun pertumbuhan pasar yang berkaitan dengan ekonomi rendah karbon.
“Saya yakin kalau bergerak lebih awal akan memberi perusahaan ruang yang lebih besar menangkap peluang efisiensi, peluang pembiayaan, dan peluang pasar dari transisi rendah karbon ini. Jadi, act now untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
(Deni Supriadi)









