AKTUALITA.CO.ID _ Merasa hanya dimanfaatkan dan tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah dengan wali murid, komite SMPN 4 Gunung Putri Acang Suryana akan mengadukan perlakuan Kepala Sekolah SMPN 4 Gunung Putri masa jabatan Ismail Latief S.Ag kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.
Pria yang akrab disapa Acang tersebut mengaku tidak pernah menandatangani apapun selama dirinya menjabat menjadi komite di SMPN 4 Gunung Putri. Bukan hanya soal penandatanganan berkas, ia juga mengaku tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah dengan wali siswa termasuk kegiatan study tour terakhir yang dipaksakan oleh kepala sekolah masa jabatan Ismail Latief.
” Pak Ismail itu sudah pindah belum ada 1 bulan, yang membuat saya merasa tidak dihargai SK saya sebagai ketua komite sudah dibekukan sebelum dirinya pindah dan itu tanpa sepengetahuan saya, bahkan saya baru tahu jika SK saya di non aktifkan saat beberapa guru dan pihak sekolah berkunjung ke rumah saya,” ungkap Acang kepada aktualita.co.id.
Lebih lanjut Acang mengatakan, dalam mengambil keputusan study tour saja dirinya tidak dilibatkan sama sekali. Belum lagi, penandatanganan dalam penggunaan dana bos dan transparansi anggaran sekolah serta kegiatan lain yang memang dimana komite harusnya mengetahui itu.
Belum lagi, kata dia, dana perpisahan yang dipungut oleh kepala sekolah masa Ismail Latief sebesar 1 juta rupiah baru dikembalikan sebanyak 550 ribu saja kepada siswa.
” Saya sampai bertanya kepada rekan saya yang juga sebagai ketua komite, dirinya selalu diminta tanda tangan saat sekolah ingin melaporkan dana bos. Namun, selama saya menjabat, jangankan menandatangani berkas dana bos, tau untuk apa dan kemana aja tidak,” tandasnya.
” Selama 4 tahun saya menjabat, tidak ada satu lembar pun laporan soal dana bos yang saya tandatangani. Bukan suudzon, jika itu laporan sampai ke dinas pendidikan dan ada tanda tangan komite saya pastikan tanda tangan saya dipalsukan, entah oleh siapa,” tambahnya.
Ia menyebut, kesabaran dan pengorbanan nya sudah cukup diberikan kepada SMPN 4 Gunung Putri termasuk membuka akses jalan untuk siswa dengan uang pribadi tanpa meminta kepada orang tua. Namun, adanya fitnah dan kesewenang-wenangan kepala sekolah membuat dirinya gerah.
” Besok saya akan bersurat kepada dinas pendidikan untuk memeriksa laporan dana bos SMPN 4 Gunung Putri. Jika disana tertuang tandatangan saya, saya pastikan saya akan laporkan pelaku pemalsuan tanda tangan tersebut,” tuturnya.
Dirinya berharap, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor turun ke SMPN 4 Gunung Putri dan menindak kepala sekolah Ismail Latief atas kesewenangannya dalam jabatan. Bukan tidak mungkin, ditempat yang baru dirinya akan melakukan hal yang sama atau mungkin lebih parah.
” Harus ada efek jera, agar menjadi contoh untuk kepala sekolah lain supaya tidak sewenang-wenang dalam jabatan, untuk saksi kita serahkan kepada yang berwenang,” tutupnya.
(sempet)









