AKTUALITA.CO.ID – Aktivitas galian yang diduga ilegal di Desa Lulut, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, tepatnya di depan TPAS Nambo, kembali menuai keluhan dari masyarakat. Kegiatan yang sudah berjalan berbulan-bulan ini disebut menimbulkan dampak serius bagi lingkungan dan pengguna jalan.
Seorang warga berinisial S (45) mengungkapkan bahwa aktivitas galian tersebut sudah berlangsung cukup lama. Ia menyebut, galian itu sempat dihentikan namun kembali beroperasi sekitar lima hingga enam bulan terakhir.
“Udah lama galian itu om, dulu sempat ditutup, kini udah jalan lagi. Berapa lamanya kurang paham, cuma ya sekitar 5 sampai 6 bulan ini lah udah beroperasi lagi,” ujarnya kepada aktualita.co.id, di sebuah warung dekat lokasi galian, Rabu (10/12/25).
Menurut S, kondisi jalan yang merupakan akses milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bogor itu kini semakin memperihatinkan. Saat cuaca panas, debu tebal menutupi jalan. Sementara ketika hujan, jalan berubah warna dan menjadi sangat licin.
“Kalo cuaca lagi panas, debunya nutupin jalan om. Apalagi kalau hujan, jalan berubah warna dan licin. Saya kan pulang-pergi kerja lewat sini,” keluhnya.

Ia juga mengatakan, lalu-lalang truk berukuran besar yang mengangkut material galian dalam sehari berjumlah mencapai puluhan hingga ratusan unit.
“Sampai sekarang aja lihat di jalan, ngejejer mobil tuh. Kalo panas gini ada 50 sampai 100 mobil yang keluar dari galian itu,” terangnya.
Ia juga menyoroti status lahan tempat galian beroperasi. Berdasarkan penuturan S, lokasi tersebut berada di atas tanah milik Perhutani, bukan milik perusahaan semen yang beroperasi di wilayah itu.
“Itu mah galian di atas tanah Perhutani bang. Emang tanah siapa? Bukan punya Indocement,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan menertibkan aktivitas galian yang dianggap merugikan masyarakat. “Ya kita mah minta ditertibkan lah galian-galian kaya gini. Toh warga, termasuk saya, gak ada untungnya. Dampaknya doang ke kita,” ujarnya.
Dari pantauan aktualita.co.id, menunjukkan deretan truk besar terparkir di sepanjang akses menuju TPAS Nambo membawa material galian. Kondisi jalan terlihat rusak di sejumlah titik akibat beban kendaraan berat. Debu tebal juga tampak menyelimuti sebagian ruas jalan, menyerupai kabut.
Sementara, Di area masuk lokasi galian, terpasang plang bertuliskan bahwa tanah tersebut merupakan lahan milik Perhutani.
Terpisah, Sekertaris Kecamatan Klapanunggal Iwan mengatakan bahwa belum mengetahui adanya galian tersebut. Ia menyampaikan akan menanyakan dan menindaklanjuti aktivitas galian itu.
“Saya baru mengetahui ini pak, mungkin kita tanyakan dulu ke seksi teknis nanti kita tindak lanjuti,” singkatnya.
(Retza)









