AKTUALITA.CO.ID – Program ketahanan pangan berbasis swadaya yang digagas Dewan Pengurus Kecamatan Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPK KNPI) Jasinga bersama Kelompok Tani Dasa Mitra Mandiri di Kampung Bagoang kini memasuki fase penanaman padi.
Tahapan tanam dilakukan setelah proses pembajakan lahan yang berlangsung pada pertengahan Februari 2026. Sementara itu, kegiatan penanaman atau tandur mulai dilaksanakan pada pertengahan Maret 2026.
Ketua DPK KNPI Jasinga Ama Dery menyampaikan, program tersebut berjalan secara bertahap di tengah keterbatasan akses air irigasi yang masih menjadi kendala utama.
“Alhamdulillah, proses tanam sudah berjalan. Ini bagian dari upaya bersama menjaga ketahanan pangan,” ujarnya kepada Aktualita.co.id, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, keberlanjutan program ini sangat bergantung pada semangat para petani yang tetap bertahan meski menghadapi minimnya pasokan air dari saluran irigasi Sodong – Cidurian.
Bahkan, kata Dery, dalam kondisi kekurangan air petani sempat mengalihkan komoditas dari padi ke tanaman sorgum. Namun, setelah aliran air kembali tersedia, lahan kembali dimanfaatkan untuk penanaman padi.
Di sisi lain, Dery menyoroti persoalan infrastruktur irigasi yang hingga kini belum tertangani secara tuntas sejak bencana banjir bandang yang terjadi pada awal 2020. Ia menyebut tingginya sedimentasi, tumbuhnya vegetasi liar, serta kerusakan fisik saluran menjadi penyebab utama tidak optimalnya distribusi air ke wilayah hilir.
“Persoalan irigasi Sendung – Cidurian dan Sodong – Cidurian sudah hampir enam tahun belum tuntas,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan Dampak dari permasalahan tersebut tidak hanya dirasakan di satu wilayah. Berdasarkan informasi pemerintah desa, sekitar 200 hektare lahan di Desa Pangaur kini tidak lagi teraliri air, sehingga menyebabkan sawah menjadi kering dan tidak produktif.
“Keterbatasan anggaran juga menjadi tantangan dalam penanganan irigasi. Pada 2025, anggaran kegiatan reguler di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Irigasi wilayah Jasinga tercatat sekitar Rp2,2 miliar. Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan riil di lapangan yang diperkirakan mencapai Rp20 miliar untuk penanganan menyeluruh dan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia mengatakan, Kondisi ini membuat upaya pemeliharaan irigasi lebih banyak dilakukan secara gotong royong oleh petani, pemerintah desa, serta UPT setempat.
“KNPI Jasinga sendiri turut terlibat langsung dalam kegiatan pembersihan sedimentasi di sejumlah titik, termasuk di wilayah Desa Setu. Kami mendorong Pemerintah Kabupaten Bogor untuk meningkatkan prioritas anggaran di sektor irigasi, serta membuka peluang dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” pungkasnya.
(Retza)









