AKTUALITA.CO.ID – Duka mendalam menyelimuti kediaman almarhum Dwi Murdianto di Tajur Halang, Kabupaten Bogor. Dwi merupakan salah satu korban dalam tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) di wilayah Sulawesi Selatan baru-baru ini.
Adik almarhum, Muhammad Tarmizi, mengenang kembali saat-saat terakhir sebelum sang kakak bertugas. Ia mengungkapkan bahwa meskipun dirinya sudah cukup lama tidak berkomunikasi langsung, sang ayah sempat berbincang dengan almarhum tepat sebelum pesawat itu lepas landas.
“Kalau dengan saya terakhir komunikasi sudah agak lama, sekitar pergantian tahun kemarin. Tapi kalau dengan Bapak, sesaat sebelum berangkat dinas sempat telepon-teleponan,” tutur Tarmizi saat ditemui di rumah duka, Minggu (25/1/2026).
Dalam struktur awak pesawat, Dwi Murdianto menjabat sebagai Engineer On Board (EOB). Tarmizi menjelaskan bahwa peran tersebut membuat kakaknya harus selalu berada di dalam setiap misi penerbangan untuk memastikan kondisi teknis pesawat selama perjalanan.
“Abang saya bertugas sebagai EOB di IAT, jadi memang harus selalu ikut terbang dalam setiap misi,” jelasnya dengan nada lirih.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, khususnya bagi istri dan ketiga buah hatinya. “Abang saya meninggalkan tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan,” tambahnya.
Pantauan di lokasi, rumah duka terus didatangi oleh pelayat yang terdiri dari kerabat serta rekan kerja almarhum di industri penerbangan. Tarmizi menyebut kakaknya sebagai pribadi yang sangat baik dan sulit digambarkan hanya dengan kata-kata.
“Abang saya itu orang yang sangat baik. Bisa dilihat sendiri, banyak sekali teman-temannya yang datang dari berbagai kalangan untuk mendoakan almarhum. Itu bukti betapa beliau dicintai semasa hidupnya,” pungkas Tarmizi.
Hingga saat ini, pihak keluarga masih menunggu proses lebih lanjut terkait penanganan korban dari tragedi yang mengguncang dunia penerbangan tanah air tersebut.
(Pandu)









