AKTUALITA.CO.ID – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa koordinasi kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial, dan sektor keuangan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pernyataan tersebut disampaikan Juda Agung saat menjadi pembicara dalam The 20th Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) International Conference di Bali, Jumat (31/7).
Dalam paparannya, Juda menjelaskan bahwa kebijakan moneter berfungsi sebagai lini pertahanan pertama untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta memulihkan kepercayaan pasar. Namun, penyesuaian suku bunga yang dilakukan demi menjaga stabilitas berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi sehingga perlu diimbangi dengan kebijakan fiskal dan makroprudensial.
”Ini adalah koordinasi kebijakan yang perlu kita gunakan sebagai kerangka kerja dalam situasi saat ini,” ujar Juda Agung.
Menurutnya, kebijakan fiskal diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah tetap melakukan stabilisasi harga energi dan pangan, menjalankan program prioritas nasional, meningkatkan efisiensi belanja negara, serta memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, subsidi energi tetap dipertahankan guna menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam kisaran sasaran.
”Tujuan kebijakan fiskal dalam situasi saat ini adalah menyeimbangkan antara mendukung pertumbuhan dan pada saat yang sama kita mempertahankan keberlanjutan fiskal untuk menjaga defisit fiskal kita di bawah 3 persen,” kata Juda.
Wamenkeu juga menekankan pentingnya sinergi antarlembaga melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang beranggotakan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Menurutnya, forum tersebut menjadi wadah untuk melakukan asesmen risiko, menyusun respons kebijakan secara terpadu, serta menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah dinamika ekonomi global.
Juda menyebut koordinasi kebijakan yang selama ini dilakukan telah menghasilkan ketahanan ekonomi nasional. Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen. Inflasi juga tetap berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen.
Sementara itu, defisit fiskal pada semester I 2026 tercatat sebesar 0,76 persen terhadap PDB, cadangan devisa mencapai USD145,6 miliar, dan pertumbuhan kredit tetap kuat di level 12,67 persen.
”Ini merupakan contoh bagaimana kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan dapat saling berkoordinasi dalam mengelola perekonomian di tengah tantangan ekonomi global, khususnya dalam menjaga stabilitas,” pungkas Juda Agung.
AKTUALITA.CO.ID - Warga Kampung Kaum, Desa Cileungsi, Kabupaten Bogor, mengeluhkan dugaan pembuangan air limbah cucian oleh sebuah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang disebut mengakibatkan bau tidak sedap...
Read more









