AKTUALITA.CO.ID – Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Bogor melakukan terobosan besar untuk menekan angka pengangguran di tahun 2026. Tak lagi terpaku pada sektor industri formal, Disnaker kini fokus mencetak tenaga kerja mandiri melalui pelatihan Konten Kreator dan Bahasa Jepang.
Kepala Disnaker Kabupaten Bogor, Nana Mulyana, menjelaskan bahwa pergeseran tren dunia kerja memaksa pemerintah untuk kreatif. Mengingat lowongan kerja di pabrik atau perusahaan formal semakin terbatas, sektor informal kini menjadi tumpuan baru.
“Kita dorong pengangguran agar bisa berdaya di sektor informal. Salah satunya menjadi konten kreator. Di sini mereka dilatih menjadi ‘artis’, sutradara, hingga editor bagi dirinya sendiri,” ujar Nana kepada Aktualita.co.id, Jumat (2/1/2026).
Sistem Jemput Bola di 20 Kecamatan
Untuk pelatihan Konten Kreator, Disnaker menyiapkan 20 paket pelatihan yang tersebar di 20 kecamatan. Setiap paket diikuti oleh 20 orang, sehingga total terdapat 400 peserta yang akan dididik tahun ini.
Berbeda dengan pelatihan biasa yang dilakukan di hotel, kali ini Disnaker menerapkan sistem jemput bola.
- Lokasi: Langsung di kantor kecamatan atau titik yang ditentukan warga.
- Durasi: 10 hari intensif.
- Prioritas: Pengangguran yang memiliki smartphone dan memiliki minat di bidang media sosial (FB Pro, YouTube, TikTok).
- Pendaftaran: Melalui Kasi Pemberdayaan Masyarakat di masing-masing kecamatan.
Peluang Karir ke Luar Negeri via BLK
Selain sektor digital, Disnaker juga membuka keran bagi masyarakat yang ingin berkarir di luar negeri melalui pelatihan Bahasa Jepang. Program yang dipusatkan di Balai Latihan Kerja (BLK) ini mencakup:
- Pelatihan Bahasa & Budaya.
- Keterampilan Spesifik: Caregiver (perawat lansia) dan Housekeeping.
- Fasilitas: Asrama dan ruang kelas representatif selama maksimal 6 bulan.
“Kami bekerja sama dengan LPK legal yang sudah punya job order resmi di Jepang. Jadi, setelah lulus pelatihan, arah kerjanya jelas,” tegas Nana.
Target 1.000 Tenaga Kerja Kompeten
Meski baru 20 kecamatan yang terakomodir karena keterbatasan anggaran, Nana menargetkan total 1.000 orang akan mendapatkan sertifikasi kompetensi dari berbagai program pelatihan sepanjang tahun 2026.
“Kami ingin peserta tidak hanya sekadar tahu, tapi benar-benar ahli dan kompeten. Dengan begitu, mereka siap bersaing merebut peluang kerja baik di dalam maupun luar negeri,” pungkasnya.
(Pandu)









